Awal 2026, Banjir Rendam Permukiman dan Sawah di Ponorogo, Petani Terancam Gagal Panen

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Awal tahun 2026 diwarnai bencana banjir di Kabupaten Ponorogo. Hujan deras yang mengguyur sejak Kamis hingga Jumat pagi (1–2/1/2026) membuat sejumlah kawasan permukiman dan lahan pertanian warga terendam air.

Dampaknya, puluhan hektare tanaman padi terancam gagal panen.

Luapan Sungai Ngampel merendam sekitar 30 hektare sawah di Dukuh Krajan, Desa Ngampel, Kecamatan Balong. Air meluap sejak Jumat dini hari setelah hujan dengan intensitas tinggi turun dalam durasi cukup lama.

Kepala Desa Ngampel, Siswanto, mengatakan banjir merendam puluhan hektare sawah milik warga. Tanaman padi yang sebagian besar baru berusia dua bulan terancam rusak.

“Padi yang baru ditanam sekitar dua bulan lalu terancam tidak bisa tumbuh maksimal. Ada minimal 10 hektare lebih sawah yang terendam air akibat banjir,” ujar Siswanto, Jumat (2/1) sore.

Kondisi tersebut membuat petani waswas. Jika genangan tidak segera surut, tanaman padi berpotensi membusuk dan mengalami gagal panen. Selain sawah, banjir juga merendam sejumlah rumah warga.

Suwardi, warga Desa Ngampel, mengungkapkan air mulai meluap sekitar pukul 01.00 WIB. Tiga jam berselang, debit air semakin besar dan masuk ke rumah warga.

“Sudah meluap sekitar pukul 01.00 dini hari. Jam 03.00 pagi air semakin besar. Ada beberapa rumah warga yang terendam sekitar selutut. Agak turun sampai sore ini,” katanya.

Tak hanya itu, genangan air setinggi mata kaki juga menggenangi jalan raya utama penghubung Ponorogo–Pacitan. Ketinggian air mencapai sekitar 10 sentimeter. Meski demikian, arus lalu lintas masih terpantau lancar meski sempat terganggu.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Agung Prasetyo, menyebut banjir tidak hanya terjadi di Kecamatan Balong. Sejumlah wilayah lain seperti Kecamatan Bungkal, Jetis, dan Kauman juga terdampak.

“Dampak terparah dirasakan warga di Kecamatan Bungkal dan Balong. Awal Januari, di tahun baru, Ponorogo mengalami hujan cukup deras dan lebat dengan durasi lama di berbagai wilayah,” jelas Agung.

BPBD Ponorogo telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk penanganan lanjutan. Salah satu penyebab banjir diduga adanya tumpukan sampah di Jembatan Desa Bringin yang menghambat aliran sungai.

“Rencananya akan dilakukan asesmen lapangan untuk mengurai arus sampah yang menumpuk. BBWS akan turun langsung melakukan asesmen di Jembatan Desa Bringin,” ujarnya.

Hingga Jumat sore, BPBD masih melakukan pendataan jumlah rumah dan luasan lahan pertanian yang terdampak banjir. Koordinasi dengan Dinas Pertanian juga dilakukan untuk memastikan potensi kerugian petani.

“Sampai sore ini BPBD masih di Desa Ngampel. Jalur Ponorogo–Pacitan masih terdapat genangan dan belum sepenuhnya surut. Untuk luasan sawah terdampak masih dalam proses pendataan bersama Dinas Pertanian,” pungkas Agung. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini