POJOKKATA.COM, PONOROGO – Kesenian Reog Ponorogo kembali menunjukkan pesonanya. Tak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sarat nilai budaya dan spiritual. Bahkan, kecintaan terhadap kesenian khas Ponorogo itu juga ditunjukkan langsung oleh pimpinan daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita turut menari Jathil dalam sejumlah kesempatan. Di antaranya saat kegiatan di Monumen Bantarangin serta dalam pertunjukan reog kolosal bertajuk Tadarus Budaya di Alun-Alun Ponorogo.
Tokoh seniman Reog Ponorogo, Hari Purnomo yang akrab disapa Mbah Pur, mengatakan para penari Jathil patut berbangga. Sebab, pemimpin daerah juga menunjukkan kecintaan terhadap kesenian tersebut.
“Jathil-jathil Reog Ponorogo harus bangga, karena saat ini Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita juga bisa menari Jathil,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan kepala daerah dalam kesenian tradisional menjadi simbol dukungan nyata terhadap pelestarian budaya lokal. Hal itu sekaligus memberi semangat bagi para pelaku seni untuk terus menjaga dan mengembangkan reog.
Sementara itu, Lisdyarita mengaku bersyukur dapat berada di tengah pertunjukan reog yang sarat nilai spiritual. Baginya, reog bukan sekadar pertunjukan seni yang menonjolkan keindahan visual atau estetika semata.
Namun di dalamnya terkandung makna mendalam, ajaran luhur, pesan moral, hingga norma sosial yang hidup di tengah masyarakat.
“Ini memberikan warna baru setelah Reog Ponorogo mendapat pengakuan sebagai warisan budaya takbenda dari UNESCO,” kata Bunda Lis—sapaan akrab Lisdyarita.
Bupati perempuan pertama di Ponorogo itu juga menyoroti kemampuan reog beradaptasi dengan perkembangan zaman. Salah satunya melalui munculnya fenomena Reog Santri yang berkembang di lingkungan sekolah Islam dan pesantren.
Menurutnya, kehadiran reog santri menjadi bukti bahwa kesenian tradisional dapat menjadi sarana dakwah budaya yang kontekstual. Sekaligus menegaskan bahwa Reog Ponorogo tetap relevan di tengah dinamika masyarakat modern. (Gal/PK)



