POJOKKATA.COM, Magetan – Penguatan literasi digital di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius Anggota DPRD Jawa Timur, Diana Sasa. Ia menilai kemampuan memilah informasi, terutama di tengah maraknya konten berbasis kecerdasan buatan (AI), sangat menentukan kualitas demokrasi.
Hal itu disampaikan saat sosialisasi literasi digital di Aula Putra Nirwana, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Minggu (5/4/2026) malam. Kegiatan tersebut diikuti pemuda dari Kecamatan Poncol, Plaosan, dan Sidorejo.
Tak hanya di Plaosan, sosialisasi serupa juga digelar di sejumlah titik. Di antaranya bersama Forkamis (GMIS) di Mangkujayan, Minggu siang.
Kemudian di Kantor Desa Pojoksari untuk pemuda Kecamatan Bendo, Sukomoro, Kawedanan, dan Lembeyan pada Sabtu (4/4/2026).
Serta di Aula Kecamatan Barat yang diikuti pemuda Barat, Kartoharjo, Karangrejo, dan Karas.
Diana Sasa yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan itu menegaskan, ruang digital kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, khususnya generasi muda. Karena itu, penggunaan media sosial harus disertai tanggung jawab.
“Ketika bermain di dunia digital, terutama media sosial, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar informasi yang dibagikan tidak asal-asalan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu prinsip utama adalah memastikan informasi telah terverifikasi sebelum disebarluaskan. Ia mendorong anak muda memiliki kesadaran untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Kesadaran ini penting. Jangan mudah menerima informasi yang belum verified,” tegasnya.
Ia menilai, tingkat literasi digital generasi muda berpengaruh langsung terhadap kualitas demokrasi. Semakin baik pemahaman mereka dalam memilah informasi, semakin sehat pula ekosistem demokrasi yang terbentuk.
“Demokrasi yang baik sangat ditentukan oleh seberapa baik wawasan literasi digital anak mudanya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Diana Sasa mengingatkan bahwa tantangan saat ini tidak hanya sebatas hoaks, tetapi juga berkembang pada penggunaan teknologi AI. Konten hasil AI, kata dia, kini semakin sulit dibedakan dengan yang asli.
“Kalau dulu hoaks, sekarang masih ada, tapi ditambah dengan penggunaan AI. Ini yang harus diwaspadai,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk lebih kritis dengan melakukan cross check terhadap setiap informasi yang diterima sebelum membagikannya ke publik.
“Sekarang secara kasat mata sudah sangat sulit dibedakan mana yang produksi AI dan bukan. Maka harus pandai melakukan pengecekan dan mencari informasi tambahan dulu sebelum membagikan,” pungkasnya. (Gal/PK)



