Oleh: Rudi Stiawan, Forum Rumah Kita Kancane Wong Magetan, Pengawal Integritas Daerah
Menyikapi rencana kehadiran jajaran Pejabat Pemerintah Kabupaten Magetan dalam acara Halal Bihalal Warga PAWITANDIROGO di Jakarta pada 19 April 2026 mendatang, kami dari Forum Rumah Kita ingin menyampaikan sebuah permohonan dengan sangat, yang lahir dari rasa prihatin dan
empati mendalam terhadap kondisi riil masyarakat di daerah.
- Prioritas yang Terabaikan: Rakyat Sedang Berjuang Melawan Banjir
Dengan segala hormat, saat ini Magetan sedang tidak baik-baik saja. Beberapa pekan terakhir, banjir telah melanda sejumlah titik, mulai dari area pemukiman hingga infrastruktur vital. Curah hujan yang ekstrem telah membuktikan bahwa sistem drainase kita belum siap.
Di saat rakyat sedang sibuk membersihkan sisa lumpur, mengkhawatirkan harta benda yang rusak, dan dihantui ketakutan akan banjir susulan, rasanya sangat kurang bijak jika para pengambil
kebijakan justru meninggalkan daerah untuk acara seremonial di Jakarta. Kami memohon, tetaplah di Magetan. Fokuskan seluruh energi, pikiran, dan kehadiran fisik Bapak/Ibu untuk memastikan
normalisasi saluran dan penataan ruang benar-benar dikerjakan dengan “sepenuh hati.”
- Pertanyaan Besar Mengenai Out-put dan Transparansi Biaya
Kami memohon agar dilakukan evaluasi yang jujur: Apa sebenarnya output kongkret bagi
kesejahteraan rakyat Magetan dari kehadiran di acara tahunan tersebut?
Data yang Kabur: Dari tahun ke tahun, keikutsertaan dalam acara serupa belum
menunjukkan dampak signifikan pada data ekonomi atau investasi yang masuk secara
transparan ke Magetan.
Transparansi Anggaran: Biaya perjalanan dinas, akomodasi, dan operasional rombongan
pejabat bukanlah jumlah yang kecil. Hingga saat ini, publik tidak pernah mendapatkan
laporan transparan mengenai berapa biaya yang dihabiskan untuk seremoni semacam ini dan
apa hasilnya bagi rakyat. - Lebih Baik Dialokasikan untuk Penanganan Bencana
Dana yang sedianya digunakan untuk memberangkatkan rombongan pejabat ke Jakarta akan jauh
lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk memperkuat dana Belanja Tak Terduga (BTT) atau
percepatan infrastruktur penanggulangan banjir. Rakyat lebih butuh kepastian bahwa rumah mereka
tidak akan terendam lagi daripada sekadar melihat foto pejabatnya bersilaturahmi di gedung mewah
di Jakarta.
Kesimpulan: Sebuah Ajakan Untuk Empati
Silaturahmi memang mulia, namun bagi seorang pemimpin, silaturahmi yang paling agung adalah
duduk bersama rakyat yang sedang kesusahan.
Kami memohon dengan sangat kepada Bunda Nanik Sumantri: Tetaplah di Magetan. Pimpinlah
kami melewati masa sulit ini. Tunjukkan bahwa prioritas Ibu adalah keselamatan dan kenyamanan
warga Magetan, bukan sekadar memenuhi undangan yang manfaat datanya masih dipertanyakan.
Jangan biarkan rakyat merasa “anak tiri” karena Ibunya lebih memilih hadir di TMII daripada
meninjau saluran air yang tidak jelas arahnya pengelolaanya.



