Longsor di Sarangan Jadi Alarm Keras Tata Kelola Lingkungan

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN – Peristiwa longsor di kawasan wisata Telaga Sarangan menjadi alarm keras bagi pariwisata Magetan. Bencana tersebut dinilai bukan sekadar musibah alam, melainkan peringatan serius atas persoalan tata kelola lingkungan yang selama ini diabaikan.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Magetan, Willing Suyono, turun langsung meninjau lokasi longsor.

Dari hasil peninjauan, ia menegaskan bahwa kejadian tersebut harus dibaca sebagai alarm ekologis yang menusuk jantung pariwisata Magetan.

“Ini bukan semata-mata faktor alam. Ada persoalan alih fungsi lahan dan tata kelola kawasan yang harus dikritisi secara terbuka dan bertanggung jawab,” tegas Willing.

Menurutnya, Sarangan bukan hanya destinasi wisata unggulan, tetapi juga kawasan bersejarah dan cagar budaya. Jejak bangsa Belanda, Jerman, Rusia, hingga tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang pernah berkontemplasi di Sarangan sebelum kemerdekaan, merupakan nilai historis yang tak ternilai dan wajib dilindungi.

Willing juga menyoroti pentingnya konsistensi penanggulangan banjir dan longsor.

Ambisi pertumbuhan ekonomi, kata dia, tidak boleh mengalahkan prinsip perlindungan lingkungan.

Tegakan pohon besar harus tetap dijaga. Namun, jika pendekatan vegetatif tidak lagi mampu mengimbangi perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi yang kian ekstrem, maka langkah teknis harus diperkuat.

Mulai dari memastikan saluran drainase bangunan lama tetap berfungsi, keterhubungan drainase ke pembuangan utama menuju sungai atau telaga, hingga kewajiban setiap warung dan bangunan wisata memiliki sistem drainase yang layak.

Lereng-lereng labil juga harus segera diperkuat dengan talud sebagai langkah cepat dan nyata.

Ia menekankan pentingnya sinergi tiga sektor utama, yakni Perhutani, BBWS Bengawan Solo, dan Pemkab Magetan. Kebijakan terkait Sarangan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

“Jangan sampai Sarangan hanya dijadikan objek PAD, tanpa diiringi tanggung jawab perlindungan lingkungan dan keselamatan manusia,” ujarnya.

Sebagai ikon pariwisata Magetan yang dikenal nasional hingga mancanegara, Sarangan menyimpan dua kekuatan utama: keindahan alam dan sejarah besar perjuangan bangsa.

Kedua nilai tersebut, menurut Willing, seharusnya menjadi pijakan utama setiap kebijakan pembangunan.

Ia juga menyoroti kondisi Gunung Lawu dan kawasan sekitarnya yang seharusnya menjadi basis resapan air wilayah barat Magetan. Namun, kawasan itu kini mengalami alih fungsi masif menjadi rumah makan, vila, dan destinasi wisata.

Alih fungsi berbasis kepentingan komersial jangka pendek, tanpa kajian KLHS yang memadai serta pengelolaan sampah yang baik, disebutnya telah memicu “amarah alam” berupa banjir dan longsor.
“Jika ini dibiarkan, bencana akan menjadi momok tahunan setiap musim hujan,” tandasnya.

Sebagai langkah konkret, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan mendorong sejumlah rekomendasi.
Di antaranya menghentikan sementara alih fungsi hutan, menegakkan penataan ruang secara konsisten dan kolaboratif, melakukan mitigasi serta deteksi dini titik rawan longsor dan banjir, hingga aksi cepat di lokasi rawan.

Selain itu, Fraksi PDIP juga mendorong pengamanan konstruksi beton di sepanjang tebing rawan longsor sekitar 300 meter di kawasan terdampak, serta relokasi warung-warung UMKM di area rawan bencana secara humanis, adil, dan berpihak pada keberlangsungan ekonomi pelaku usaha.

“Pariwisata tidak cukup hanya menjual keindahan, tetapi juga harus menjamin kenyamanan dan keselamatan. Ketahanan ekologis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Ini tanggung jawab kita bersama agar Magetan yang indah tidak hanya menjadi cerita bagi anak cucu,” pungkas Willing. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini