Harga Naik, Warga Magetan Pilih Sistem Jogrok untuk Beli Hewan Kurban

0

POJOKKATA.COM, Magetan – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026 yang jatuh pada 27 Mei mendatang, harga hewan kurban di Kabupaten Magetan mengalami lonjakan cukup signifikan. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat memilih sistem jogrok sebagai metode jual beli hewan kurban di pasar tradisional.

Sistem jogrok merupakan metode transaksi hewan ternak secara borongan atau per ekor tanpa melalui penimbangan berat badan. Harga ditentukan berdasarkan taksiran visual terhadap postur tubuh sapi maupun kambing, sehingga proses jual beli dinilai lebih cepat dan praktis.

Metode tersebut masih banyak digunakan di pasar hewan tradisional di Jawa, terutama menjelang Idul Adha. Namun, sistem ini juga sangat bergantung pada kemampuan tawar-menawar antara pembeli dan pedagang.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Magetan, Sucipto, mengakui tren peningkatan transaksi sistem jogrok terjadi cukup tinggi tahun ini.

“Dari sisi pasar dan harga sendiri, lonjakan cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yang mana lonjakan terlihat khususnya di sistem pembelian jogrok,” jelas Sucipto, saat melakukan kunjungan ke Pasar Hewan Plaosan bersama Anggota DPRD Komisi B dan Kepala Disnakkan Magetan, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, kenaikan harga hewan kurban tahun ini mencapai sekitar 30 persen dibanding kondisi normal. Meski demikian, pihaknya menilai fluktuasi harga tersebut sepenuhnya dipengaruhi mekanisme pasar.

“Kondisi harga saat ini sangat menguntungkan bagi para petani dan peternak lokal yang mengandalkan momentum Idul Adha Tahun 2026 ini. Kemungkinan para peternak hewan meraup keuntungan yang signifikan,” imbuhnya.

Sucipto menambahkan, harga hewan kurban sangat dipengaruhi tingkat permintaan masyarakat. Karena itu, ia mengimbau pedagang tetap memperhatikan kondisi kesehatan ternak yang dijual.

“Kalau harga itu tergantung permintaan. Harapan kami nanti untuk pedagang-pedagang yang sekarang kulakan ini, pertama kesehatannya dicek, keduanya juga memiliki syarat-syarat untuk kurban,” ujarnya.

Di tengah ramainya transaksi hewan kurban, sejumlah warga mengaku lebih nyaman membeli dengan sistem jogrok. Salah satunya Sunaryo, warga Kecamatan Plaosan, yang datang langsung ke Pasar Hewan Plaosan untuk mencari sapi kurban.

Menurut Sunaryo, sistem jogrok dinilai lebih praktis karena proses transaksi berlangsung cepat tanpa harus menunggu penimbangan berat hewan.

“Kalau sistem jogrok itu lebih cepat dan sudah biasa dilakukan di pasar sini. Tinggal lihat postur sapinya, cocok harga langsung jadi,” katanya.

Meski harga tahun ini mengalami kenaikan, Sunaryo mengaku tetap mencari hewan kurban terbaik sesuai kemampuan anggaran yang dimiliki keluarganya.

“Harga memang naik dibanding tahun lalu, tapi karena kebutuhan kurban tetap dicari yang sehat dan sesuai kemampuan,” tambahnya. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini