Buceng Agung Dilarung ke Tengah Telaga, Ribuan Orang Padati Ngebel Ponorogo

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Kawasan wisata Telaga Ngebel dipadati ribuan warga dan wisatawan, Selasa (16/6/2026). Mereka datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan prosesi Larungan Telaga Ngebel, ritual adat tahunan yang menjadi salah satu agenda utama Grebeg Suro 2026 sekaligus menyambut datangnya 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah.

Sejak pagi, masyarakat sudah memadati area telaga. Suasana sakral berpadu dengan kemeriahan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Warga tampak berdesakan di sejumlah titik terbaik untuk melihat langsung arak-arakan gunungan hasil bumi dan Buceng Agung yang menjadi inti prosesi larungan.

Gunungan raksasa berisi aneka hasil bumi dipanggul secara gotong royong oleh warga. Hasil pertanian itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan keberkahan yang diberikan melalui keberadaan Telaga Ngebel.

Tak hanya itu, tumpeng utama atau Buceng Agung juga diarak mengelilingi telaga sebelum akhirnya dilarung ke tengah danau sebagai puncak prosesi.

Sekretaris Panitia Larungan Telaga Ngebel 2026, Fibi Chandra, menjelaskan bahwa tradisi larungan telah berlangsung sejak lama dan awalnya dilakukan secara terpisah oleh warga empat desa di sekitar telaga, yakni Desa Wagir Lor, Desa Ngebel, Desa Sahang, dan Desa Gondowido.

“Tradisi ini sudah berlangsung lama dan turun-temurun di lingkungan warga empat desa tersebut,” ujarnya.

Menurut Fibi, momentum penting terjadi pada 1992 saat Pemerintah Kecamatan Ngebel mulai mengoordinasikan pelaksanaan larungan sehingga menjadi kegiatan bersama masyarakat kawasan Telaga Ngebel. Sejak saat itu, Larungan Telaga Ngebel masuk dalam rangkaian agenda Grebeg Suro Ponorogo.

Meski sempat mengalami perubahan nama, mulai dari Larung Sesaji hingga Larung Risalah Doa, esensi tradisi tersebut tidak pernah berubah. Setelah mendapat masukan dari para sesepuh, nama Larungan Telaga Ngebel akhirnya dipilih dan digunakan hingga sekarang.

“Maknanya tetap sama, yaitu ungkapan rasa syukur masyarakat atas keberadaan Telaga Ngebel yang memberikan manfaat bagi kehidupan warga,” terang Fibi.

Ia menjelaskan, telaga tidak hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga menopang sektor pertanian, perikanan, hingga pariwisata yang menjadi salah satu penggerak ekonomi kawasan.
Karena itu, berbagai hasil bumi disusun menjadi buceng dan dipersembahkan secara simbolis sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.

“Sebagian rezeki yang diperoleh masyarakat dikembalikan kepada Sang Pencipta. Kalau istilah orang Jawa, dikembalikan kepada pemiliknya. Itu makna utama dari larungan,” katanya.

Selain prosesi puncak berupa pelarungan Buceng Agung ke tengah telaga, tradisi ini juga diawali serangkaian ritual adat yang digelar pada malam 1 Suro.
Salah satunya adalah jamasan wedus kendit, yakni kambing berwarna hitam dengan garis putih melingkar di bagian perut. Menurut Fibi, wedus kendit memiliki filosofi tentang keterhubungan dan kesinambungan masyarakat yang hidup di kawasan Telaga Ngebel.

“Garis putih yang tidak terputus menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat yang hidup di sekitar Telaga Ngebel,” ungkapnya.

Rangkaian berikutnya adalah larung rudiro, pembuatan cok bakal yang ditanam di sejumlah titik di sekitar telaga, hingga Lampah Ratri, tradisi berjalan mengelilingi telaga sambil membawa obor sebagai simbol doa dan harapan masyarakat.

“Jumlah obor menyesuaikan bilangan Tahun Saka. Tahun ini sebanyak 1.960 obor,” jelasnya.

Bagi masyarakat Ngebel, Larungan Telaga Ngebel bukan sekadar agenda wisata budaya. Tradisi tersebut menjadi warisan leluhur yang mengandung nilai sejarah, spiritualitas, gotong royong, dan rasa syukur yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

“Yang paling penting bagaimana tradisi ini tetap berjalan dan tidak terputus. Karena di dalamnya ada nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga,” pungkas Fibi. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini