POJOKKATA.COM, MAGETAN – Rencana pengembangan Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kawasan Kebonagung, Magetan, mendapat dukungan Anggota DPR RI asal Magetan, Riyono Caping. Namun, dukungan tersebut dibarengi catatan agar pembangunan Kampus V Unesa di Maospati terlebih dahulu dituntaskan.
Riyono menilai kehadiran perguruan tinggi di tengah kota berpotensi memberikan efek berantai terhadap perekonomian daerah. Ribuan mahasiswa yang beraktivitas di Magetan dinilai bisa menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transportasi, jasa, hingga perdagangan.
“UMKM meningkat, jasa meningkat. Sederhana saja, dengan adanya kampus di tengah kota, layanan transportasi akan banyak, Gojek, Maxim, dan lain sebagainya,” kata Riyono usai acara nonton bareng Timnas Indonesia bersama media, kemarin.
Menurut dia, keberadaan kampus bukan sekadar memperluas akses pendidikan tinggi. Mahasiswa dari luar daerah yang tinggal dan beraktivitas di Magetan juga akan membawa uang masuk sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
“Magetan akan mendapat multiplier effect ketika ada perguruan tinggi. Uang masuk dan beredar di Magetan makin banyak,” ujarnya.
Riyono juga menilai kehadiran kampus di kota dapat meningkatkan minat lulusan SMA sederajat untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Apalagi, akses pendidikan tinggi yang lebih dekat akan memberikan pilihan bagi masyarakat Magetan.
“Minat adik-adik SMA sederajat untuk melanjutkan pendidikan akan semakin tinggi. Dengan semakin banyak anak-anak kita kuliah, ini sangat bermanfaat. Tidak ada yang dirugikan dengan adanya kampus di kota,” jelasnya.
Namun, Riyono mengingatkan agar rencana pengembangan kampus baru tetap memperhatikan efektivitas pemanfaatan aset dan tahapan pembangunan Kampus V Unesa yang sudah ada di Maospati. Kampus V tersebut diresmikan pada Agustus 2024.
Dia menyebut pembangunan Kampus V di Maospati masih belum sepenuhnya selesai. Karena itu, menurutnya, pembangunan dan pemenuhan kapasitas di lokasi tersebut perlu menjadi pertimbangan sebelum membuka pengembangan baru.
“Yang di Maospati itu diselesaikan dulu. Akses dari sana ke Kota Magetan juga tidak terlalu jauh,” katanya.
Meski begitu, Riyono menyatakan tidak mempersoalkan rencana pengembangan kampus di kawasan perkotaan apabila kebutuhan lahan memang sudah terpenuhi dan terdapat aset pemerintah daerah yang bisa dimanfaatkan.
Unesa sendiri merencanakan pengembangan Kampus 5 di Kelurahan Kebonagung dengan memanfaatkan tanah eks bengkok. Lahan tersebut terdiri atas 13 sertifikat dengan luas keseluruhan sekitar 16,18 hektare.
Kawasan tersebut dirancang dengan konsep filosofi “Mahkota” sebagai representasi identitas Unesa sebagai Kampus Rumah Para Juara. Penataan kawasan mencakup gerbang utama, bangunan akademik, ruang terbuka, hingga masjid sebagai titik puncak kawasan.
Riyono menyebut pemanfaatan aset daerah untuk pendidikan dapat menjadi solusi di tengah keterbatasan kemampuan APBD. Terlebih, Pemkab Magetan masih memiliki sejumlah aset lahan yang belum termanfaatkan secara optimal.
“Kalau lahannya kosong, buat apa tidak dimanfaatkan? Rata-rata pemda banyak punya aset, tetapi idle. Daripada tidak dimanfaatkan, lebih baik digunakan, apalagi untuk pendidikan,” tegasnya.
Dia juga menyinggung rencana pengembangan fasilitas terkait ketahanan pangan yang membutuhkan dukungan lahan.
Menurutnya, aset daerah dapat dimanfaatkan untuk mendukung program strategis sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kendati demikian, proses hibah aset untuk pengembangan Kampus Unesa tetap harus melalui mekanisme pemerintahan yang berlaku. Kerja sama antara Pemkab Magetan dan Unesa, termasuk persetujuan DPRD apabila diperlukan dalam proses pelepasan aset, dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan lahan memiliki dasar hukum yang jelas.
Bagi Riyono, pembangunan kampus di Magetan pada prinsipnya merupakan solusi yang bisa memberikan keuntungan bagi pendidikan sekaligus ekonomi. Hanya saja, lokasi dan tahapan pembangunan harus dihitung secara matang agar tidak terjadi pemborosan aset maupun pembangunan yang tidak optimal.
“Kalau memang sudah sangat dibutuhkan, kabupaten juga punya lahan. Kalau lahannya ada dan untuk pendidikan, saya setuju. Ini win-win solution,” pungkasnya. (Gal/PK)



