POJOKKATA.COM, MAGETAN – Perempuan muda asal Desa Pojoksari, Magetan, Amanda Mutiara Kusuma Dewi, naik ke panggung bukan sekadar sebagai penampil. Mahasiswi seni pedalangan itu membuktikan bahwa dunia wayang kulit masih punya generasi penerus. Di hadapan penonton Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Kamis malam (10/9/2026), Amanda tampil sebagai dalang membawakan lakon Srikandi Kridha.
Dia adalah Amanda Mutiara Kusuma Dewi, perempuan asal Desa Pojoksari yang kini tengah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Program Studi Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan.
Amanda tampil membawakan lakon Srikandi Kridha. Penampilannya sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi generasi muda daerah yang memilih untuk menekuni sekaligus melestarikan seni tradisi wayang kulit.
Kehadiran Amanda menunjukkan bahwa seni pedalangan masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Apalagi, wayang tidak sekadar menyuguhkan cerita, tetapi juga sarat dengan pesan dan nilai kehidupan.
Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat diajak menikmati seni tradisi sekaligus menyerap literasi yang disampaikan melalui cerita dan karakter pewayangan.
Pagelaran wayang kulit itu menjadi salah satu rangkaian Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan Kabupaten Magetan 2026 yang digelar pada 10–12 September. Festival tersebut mengusung semangat menjadikan perpustakaan tidak hanya sebagai tempat membaca dan menyimpan buku, tetapi juga ruang belajar, kreativitas, kebudayaan, serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam sambutan Bupati Magetan yang dibacakan Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro, perpustakaan didorong semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Beragam kegiatan dan pelayanan publik turut dihadirkan dalam festival, mulai pelayanan Samsat Magetan, administrasi kependudukan, layanan pertanahan, cek kesehatan gratis hingga donor darah.
Pembukaan festival juga dikemas dengan berbagai pertunjukan yang memadukan unsur literasi dan kebudayaan. Selain wayang kulit, pengunjung disuguhi penampilan tari dan pembacaan dongeng.
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpustakaan Nasional RI Edi Wiyono mengapresiasi langkah Pemkab Magetan dalam menguatkan budaya literasi melalui kolaborasi berbagai pihak.
Menurut dia, pembangunan budaya literasi tidak bisa hanya bertumpu pada satu institusi. Diperlukan sinergi untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
“Keberhasilan membangun literasi di Kabupaten Magetan tidak bisa hanya dilakukan oleh Graha Literasi Magetan saja, namun adanya sinergi untuk membangun literasi di Kabupaten Magetan,” ujarnya.
Sementara itu, pagelaran wayang kulit oleh Amanda menjadi salah satu gambaran bagaimana literasi dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat. Seni tradisi menjadi jembatan untuk mengenalkan cerita, budaya sekaligus nilai kehidupan kepada generasi lintas usia. (Gal/PK)



