Grebeg Suro 2025 Memasuki Hari-Hari Terakhir, Bupati Ajak Warga Meriahkan Hingga Penutupan

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Grebeg Suro 2025 tinggal menyisakan beberapa hari. Namun semangat masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meramaikan salah satu agenda budaya terbesar di Ponorogo itu tak surut. Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengajak seluruh elemen masyarakat ikut menjaga semarak hingga hari penutupan pada Kamis (26/6).

Bupati yang akrab disapa Kang Giri itu memberikan apresiasi atas kelancaran berbagai kegiatan Grebeg Suro yang sudah berlangsung sejak awal. Termasuk Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXX yang resmi digelar di Alun-alun Ponorogo.

“Ini bukan hanya soal perayaan. Tapi juga perjuangan kita bersama menjaga kualitas dan marwah budaya Ponorogo, khususnya reog,” ujar Kang Giri saat ditemui di arena FNRP, Minggu (22/6) malam.

Ia pun mengaku hampir tak pernah absen menghadiri berbagai agenda yang menjadi bagian dari Grebeg Suro. Mulai dari pertunjukan reog, kirab budaya, hingga lomba-lomba yang menyedot perhatian masyarakat.

Masih ada sejumlah kegiatan yang akan digelar dalam beberapa hari ke depan. Di antaranya Lomba Macapat (23–24 Juni), Pameran Seni Rupa “Sor Zhamboe” (23–30 Juni), Pagelaran Pusaka (23–26 Juni), dan prosesi Bedol Pusaka (25 Juni). Semua kegiatan itu diyakini tak kalah menarik dari pertunjukan utama.

“Ayo rawuh, ajak keluarga dan saudara. Kita tunjukkan bahwa budaya Ponorogo luar biasa, baik di dalam maupun di mata luar daerah. Ini juga bentuk rasa cinta kita pada budaya sendiri,” tambahnya.

Kang Giri juga menyampaikan terima kasih kepada para pelajar, guru, serta masyarakat yang telah ikut menyukseskan Festival Reog Remaja (FRR) XXI yang diikuti oleh 24 grup dari tingkat SMP dan SMA. Menurutnya, performa para peserta sangat memukau meski sempat diwarnai gangguan teknis.

“Sempat ada kendala sound system ke arah penonton bagian belakang. Tapi sound utama di depan panggung tetap aman. Saya langsung kumpulkan panitia, dewan juri, dan perwakilan peserta. Setelah dicek, semuanya sepakat tidak perlu diulang karena penilaian tidak terganggu,” terang Kang Giri.

Ia menilai semangat dan mental para peserta tetap terjaga meskipun insiden tersebut terjadi. Bahkan dirinya tetap menikmati pertunjukan yang berlangsung dengan apik.

“Anak-anak tampil dengan luar biasa. Ini jadi bukti bahwa generasi muda Ponorogo siap menjaga tradisi,” pungkasnya. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini