Monumen Reog Belum Rampung, Denyut Ekonomi Sudah Bergeliat

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) di Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Ponorogo, belum rampung sepenuhnya. Namun, daya tarik ikon baru setinggi 126 meter itu sudah terasa kuat.

Wisatawan silih berganti datang. Dampaknya, denyut ekonomi warga sekitar mulai bergerak.

Di lahan sekitar monumen, lapak-lapak pedagang bermunculan. Jasa parkir pun ikut hadir. Mayoritas dikelola warga setempat. Ricky, salah satunya. Warga sekitar MRMP itu membuka warung soto ayam. Setiap akhir pekan dan hari libur, warungnya lebih ramai.

“Saya jualan tiap hari, tapi memang paling ramai Sabtu, Minggu, atau tanggal merah. Kadang sampai malam karena pengunjung terus datang,” ujar Ricky.

Menurut dia, hampir seluruh pedagang di kawasan MRMP merupakan warga lokal. Mereka merasakan langsung manfaat ekonomi dari pembangunan monumen. Terlebih saat ada pasar malam, jumlah pengunjung meningkat signifikan.

“Pengunjung semakin ramai,” katanya.

Hal serupa dirasakan Mbah Mencok, juru parkir di kawasan MRMP. Dia mengaku kini bisa mendapatkan penghasilan dari ramainya wisatawan. Lokasi parkir berpindah-pindah, menyesuaikan arus pengunjung.

“Kadang di timur, barat, atau dekat pintu masuk. Yang boleh jualan dan parkir memang warga sekitar,” jelasnya.

Ia menambahkan, para pedagang dan juru parkir tergabung dalam paguyuban yang sudah mengajukan izin ke kecamatan. Pengunjung, kata dia, tak jarang datang hingga pukul 22.00.

“Tidak hanya dari Ponorogo, tapi juga luar daerah,” ungkapnya.

Antusiasme juga datang dari wisatawan. Wagiyah, pengunjung asal Ngunut, Babadan, Ponorogo, mengaku senang bisa melihat langsung MRMP meski pembangunannya belum selesai.

“Biasanya cuma lihat di HP. Ini pertama kali ke sini, ikut rombongan ibu-ibu RT,” tuturnya.

Datang menggunakan kereta kelinci, Wagiyah menilai kawasan MRMP cukup nyaman untuk berwisata dan berfoto. Banyaknya pedagang juga menjadi nilai tambah. Namun, dia berharap kawasan tersebut lebih teduh.

“Kalau ada banyak pohon, pengunjung pasti betah. Akses jalannya sudah lumayan, kekurangannya mungkin karena pembangunan belum selesai,” ujarnya.

Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkah Supriyanto (30), warga Pacitan, berkeliling kawasan monumen. Matanya terpaku pada patung raksasa berlatar perbukitan kapur.

“Penasaran dengan patung tertinggi yang katanya mengalahkan Garuda Wisnu Kencana,” katanya saat ditemui, Minggu (4/1/2025).

Ia mengaku bangga Ponorogo memiliki ikon budaya semegah itu. Meski demikian, Supriyanto menyoroti minimnya pepohonan.

“Panas sekali karena belum ada pohon. Mungkin karena masih proses pembangunan,” ucapnya.

Pemandangan serupa terlihat di berbagai sudut. Rombongan wisatawan berfoto, berteduh di lapak sederhana, atau sekadar berdiri terpukau memandang monumen. Dewi, wisatawan asal Kabupaten Madiun, juga merasakan hal yang sama.

“Bagus banget patungnya. Tapi panasnya minta ampun,” ujarnya.

Dia menilai monumen Reog Ponorogo memiliki nilai edukasi budaya yang kuat.

“Terlepas dari isu apa pun, monumen ini langsung mengenalkan budaya Reog ke masyarakat luas,” katanya.

Di balik ramainya pengunjung, warga Desa Sampung bergerak senyap. Ridwan, anggota paguyuban Mas Morogo, menyaksikan perubahan itu dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan wisatawan mendorong warga berinisiatif menata parkir dan lapak agar kawasan tetap tertib.
“Kami menata parkir supaya rapi. Sekarang kurang lebih ada 70 lapak. UMKM mulai berkembang,” ujarnya.

Setiap hari, sekitar 35 pemuda lokal dilibatkan dalam pengelolaan parkir.

Menariknya, tarif parkir belum ditetapkan. Warga menerapkan sistem partisipatif seikhlasnya.

“Ada yang memberi Rp 1.000, ada juga Rp 2.000. Untuk kebutuhan sederhana anak-anak yang bertugas,” jelas Ridwan.

Dampak ekonomi juga dirasakan Suparmi, pedagang sayur. Dagangannya laris seiring ramainya pengunjung. “Saya jual sayur kemasan Rp 5.000. Beberapa jam sudah habis,” katanya.

Parminto, pemilik kuda, turut kecipratan rezeki dengan menawarkan jasa naik kuda keliling kawasan monumen.

Monumen Reog Ponorogo memang belum selesai. Taman belum hijau, fasilitas belum lengkap, dan pembangunan tahap kedua masih menunggu kepastian. Namun, di tengah debu dan terik matahari, monumen itu sudah lebih dulu berfungsi sebagai magnet sosial dan ekonomi.

“Masih banyak yang perlu dibenahi, mungkin mulai dari menanam pohon,” kata Supriyanto.

Ridwan pun berharap kelanjutan pembangunan segera terealisasi. “Kalau sudah tertata bagus, UMKM Desa Sampung pasti berkembang pesat,” ujarnya.

Di balik pagar besi dan papan larangan masuk, ratusan warga tetap datang, mengagumi sosok dadak merak raksasa itu. Monumen Reog Ponorogo belum rampung, tetapi harapan warga sudah lebih dulu tumbuh. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini