POJOKKATA.COM, MAGETAN – Pemkab Magetan memberi atensi khusus terhadap isu dugaan getok harga yang kembali ramai di kawasan wisata Telaga Sarangan. Meski begitu, pemerintah daerah menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi atau menekan harga yang ditetapkan pelaku usaha rumah makan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Magetan Joko Trihono mengatakan, rumah makan yang sempat disorot di media sosial sejatinya sudah mencantumkan daftar harga menu makanan dan minuman.
Karena itu, pemkab tidak bisa serta-merta masuk mengatur besaran harga yang dipasang pelaku usaha.
“Di rumah makan tersebut sebetulnya sudah memasang daftar harga. Kami juga tidak berani menekan harga yang mereka pasang karena kami tidak tahu biaya produksi yang mereka gunakan seperti apa,” ujar Joko, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, prinsip yang terus ditekankan Disbudpar adalah soal karakter getok harga yang merugikan konsumen dan mencederai citra pariwisata.
Namun, pendekatan yang diambil pemkab lebih pada edukasi, baik kepada wisatawan maupun pelaku usaha.
“Kami mengimbau pengunjung Telaga Sarangan menjadi konsumen yang cerdas dan bijak. Wisatawan harus membiasakan diri menanyakan harga sebelum memesan. Kalau ini diaplikasikan, saya kira kasus-kasus serupa tidak akan terjadi lagi,” jelasnya.
Disbudpar juga aktif menyampaikan edukasi melalui kanal media resminya. Isinya antara lain panduan berkunjung ke tempat makan, hal-hal yang perlu diperhatikan wisatawan, hingga pentingnya transparansi harga. Di sisi lain, pelaku usaha jasa pariwisata juga diingatkan agar menjaga perilaku pelayanan.
“Keberlangsungan pariwisata Sarangan ini sangat ditentukan oleh perilaku pelayanan. Kalau pelaku usaha terus berperilaku kurang baik dan mencederai pelayanan, konsumen pasti akan berpikir ulang untuk datang kembali,” tegas Joko.
Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga Telaga Sarangan sebagai destinasi andalan Kabupaten Magetan.
Soal isu yang viral di media sosial dan dikaitkan dengan persaingan antardestinasi, Joko meminta semua pihak berpikir lebih dewasa.
“Dalam proses bisnis, apalagi di kawasan wisata, propaganda yang saling menjatuhkan antara satu destinasi dengan destinasi lain itu kurang baik untuk membangun kepariwisataan bersama,” ujarnya.
Menurut Joko, setiap destinasi memiliki keunggulan masing-masing. Sarangan, Tawangmangu, hingga kawasan lain seperti Ngebel bisa saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan. Bahkan, ia mendorong agar destinasi-destinasi tersebut dikemas dalam satu paket wisata.
“Saya sering sampaikan ke teman-teman travel agent, ayo belajar memaketkan destinasi. Bisa Sarangan, bisa Ngebel, bisa destinasi lain dalam satu paket. Kalau itu jalan, semuanya akan ikut merasakan dampak kemajuan,” tandasnya.
Terkait dugaan adanya unsur kesengajaan atau persaingan tidak sehat di balik viralnya isu tersebut, Joko menegaskan pemerintah tidak ingin berandai-andai. Posisi pemkab, kata dia, adalah mendorong kompetisi yang sehat antardestinasi, sekaligus memperkuat kolaborasi agar sektor pariwisata regional tumbuh bersama. (Gal/PK)



