POJOKKATA.COM, MAGETAN – Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, Diana Amaliyah Verawati Ningsih atau akrab disapa Diana Sasa, menggelar reses perdananya di Desa Turi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Rabu (11/2/2026). Desa tersebut disebut sebagai salah satu basis suara terbesarnya di Magetan pada Pemilu lalu.
Kegiatan serap aspirasi itu digelar di Kantor Desa Turi dan dihadiri Wakil Ketua I DPRD Magetan Suyatno, Kepala Desa Turi Suhepi, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Reses ini merupakan bagian dari masa persidangan II tahun 2025–2026 DPRD Provinsi Jawa Timur, sekaligus menjadi reses pertama Diana Sasa sebagai legislator sisa masa jabatan 2024–2029 dari Dapil 9 (Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Magetan, dan Ngawi).
Dalam sambutannya, Diana menyampaikan rasa terima kasih kepada warga Turi. Ia menyebut desa tersebut sebagai salah satu wilayah dengan perolehan suara terbanyak untuk dirinya di Magetan.
“Warga Turi sudah mengenal saya sejak 2019, saat pertama kali maju sebagai caleg. Waktu itu saya tidak punya apa-apa, tapi mereka memilih saya tanpa saya memberi sangu, tanpa money politik. Tahun 2024 dukungannya juga luar biasa,” ujarnya.

Dalam dialog dengan warga, berbagai aspirasi disampaikan, terutama terkait pembangunan infrastruktur desa. Warga mengeluhkan minimnya dana yang kini bisa dialokasikan melalui dana desa, khususnya untuk infrastruktur pertanian, jalan, dan fasilitas penunjang lainnya.
Menurut Diana, banyak anggaran desa saat ini terserap untuk program lain sehingga kebutuhan pembangunan fisik menjadi terbatas. Karena itu, masyarakat berharap ada dukungan dari pemerintah provinsi.
“Usulannya cukup banyak. Nanti akan kita tata dan kita prioritaskan mana yang paling mendesak. Kondisi pendanaan memang sedang tidak mudah, tapi keluhan masyarakat ini harus kita perjuangkan,” jelasnya.
Salah satu usulan adalah permintaan tambahan dukungan untuk fasilitas kolam renang desa yang sudah ada. Warga berharap kolam tersebut bisa ditingkatkan standarnya agar tidak hanya menjadi wahana rekreasi, tetapi juga mendukung pembinaan atlet renang dari desa.
Diana menilai fasilitas olahraga yang memadai penting untuk pembinaan atlet sejak dini.
“Kalau standarnya bisa ditingkatkan, ini bisa jadi tempat pembibitan atlet. Atlet itu lahir dari desa-desa juga,” katanya.
Selain itu, Diana juga menyinggung pembangunan jembatan penghubung antar dusun di Desa Turi yang sebelumnya telah terealisasi melalui gotong royong.
Ia menyebut pembangunan tersebut sempat terkendala kekurangan anggaran, namun bisa diselesaikan berkat partisipasi masyarakat.
“Dulu anggarannya tidak penuh, tapi kami gotong royong dengan warga. Sekarang jembatan itu sangat bermanfaat karena menghubungkan dua dusun yang sebelumnya harus memutar jauh,” tuturnya.
Melalui reses ini, Diana ingin menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi masyarakat desa, terutama di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi pemerintah saat ini. (Gal/PK)



