POJOKKATA.COM, Magetan – Warga Bulukerto tumplek blek mengikuti Festival Nrang Kusumo di Lapangan Kertajaya, Kelurahan Bulukerto, Magetan, Sabtu (14/2/2026), Gunungan apem yang diarak keliling kelurahan, lalu diperebutkan warga setibanya di lapangan untuk mendapatkan berkah.
Kirab gunungan apem diberangkatkan dari Masjid Al Iman. Perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, hingga ratusan warga mengenakan busana adat.
Rombongan kirab diiringi seni reog, mobil hias (nyondro), cucuk lampah, serta kehadiran Lurah Bulukerto bersama domas dan manggolo. Arak-arakan itu menyusuri jalan kampung sebelum finis di Lapangan Kertajaya.
Begitu tiba, gunungan apem langsung dibagikan. Warga saling berebut dengan wajah sumringah. Bagi mereka, apem bukan sekadar kue tradisional. Ada simbol dan doa yang melekat.
Apem merupakan kue khas Jawa berbahan tepung beras dan gula Jawa. Dalam tradisi, apem wajib hadir di berbagai ritual: selametan, syukuran, pernikahan, hingga tradisi megengan menjelang Ramadan. Secara filosofis, apem diyakini berasal dari kata Arab “afuan” atau “affuwun” yang bermakna permohonan maaf.
Lurah Bulukerto, Widya Yusti Atlisiaji, mengatakan festival ini merupakan yang pertama digelar dan akan menjadi tonggak agenda budaya tahunan di Bulukerto.
“Spesial di Festival Nrang Kusumo kali ini, warga ingin mengangkat dan melestarikan apem sebagai warisan leluhur,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama ini apem kerap dipandang sebelah mata. Dianggap makanan sederhana dan identik dengan kalangan menengah ke bawah. Padahal, justru di situlah nilai kesederhanaan dan kesetaraan terkandung.
“Apem bisa dinikmati siapa saja. Tanpa kasta. Semua duduk bersama, makan apem bersama. Yang membedakan bukan status, tapi ketakwaan,” tegasnya.
Filosofi itu diperkuat dengan makna Asmaul Husna Al ‘Afuwwu—Yang Maha Pemaaf. Tekstur apem yang lembut dan rasanya yang gurih menjadi simbol hati yang lapang. Jiwa memaafkan, menurutnya, berarti merontokkan egoisme, membebaskan beban orang lain, membangun ukhuwah, dan menjaga peradaban tetap harmonis dari masa ke masa.
“Kalau kita bisa memaafkan, hidup jadi lebih tenang. Seperti menikmati apem yang lembut dan gurih,” imbuhnya.
Festival ini juga menjadi ruang edukasi sejarah. Nama Nrang Kusumo merujuk pada Patih Nrang Kusumo, tokoh penting pendiri Kabupaten Magetan yang dikenal mendukung perlawanan terhadap VOC pada abad ke-17/18. Ia merupakan patih Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Amangkurat I.
Makam Patih Nrang Kusumo berada di Astana Bulu, Kelurahan Bulukerto. Setiap tahun, kisah keberaniannya dihidupkan kembali lewat kirab budaya, gunungan apem, dan pagelaran seni dalam Festival Nrang Kusumo.
Di Bulukerto, apem bukan lagi sekadar jajanan pasar. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap lupa, pengikat solidaritas, sekaligus pengingat bahwa budaya hanya akan lestari jika dirawat bersama.
Festival perdana ini pun menjadi penanda: dari kue sederhana, lahir pesan besar tentang sejarah, kesetaraan, dan saling memaafkan.
Festival Nrang Kusumo di Kelurahan Bulukerto, Magetan, masuk dalam Calendar of Event (CoE) Magetan 2026, Acara ini merupakan agenda tahunan untuk melestarikan budaya dan mendongkrak ekonomi lokal. (Gal/PK)



