Perbatasan Ponorogo–Trenggalek Terisolasi, Warga Andalkan Jembatan Swadaya

0

PONOROGO, Pojok Kiri – Putusnya jembatan penghubung di perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek kembali menyisakan persoalan serius. Warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, kini harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali hendak beraktivitas.

Jembatan sepanjang 70 meter dengan lebar 2,7 meter yang melintang di Sungai Jabak itu ambrol diterjang banjir. Derasnya arus usai hujan lebat di kawasan perbukitan Ngrayun membuat struktur tak mampu bertahan. Bagian tengah runtuh dan hanyut terbawa arus, memutus satu-satunya akses utama warga menuju wilayah Trenggalek.

Padahal, selama ini Trenggalek menjadi pusat pendidikan, kesehatan, sekaligus aktivitas ekonomi warga perbatasan tersebut.

Suyanto, pengelola kereta gantung darurat sekaligus warga setempat, menuturkan jembatan itu memiliki sejarah panjang swadaya masyarakat. Awalnya dibangun pada 2010 dengan anyaman bambu. Empat tahun berselang, konstruksinya diperbarui menjadi beton melalui gotong royong warga.

“Namun awal Januari 2026 kemarin kembali ambrol karena banjir,” ujar Suyanto, Sabtu (14/2).

Menurutnya, secara geografis jarak ke Trenggalek jauh lebih dekat dibanding ke pusat layanan di Ponorogo. Ketika jembatan terputus, mobilitas warga praktis lumpuh.

“Kalau darurat, ya terpaksa digendong lewat sungai, asal arusnya tidak deras. Kalau sungai sedang kencang, harus memutar lebih dari 20 kilometer untuk berobat ke Trenggalek,” jelasnya.

Selama sekitar sepekan pascakejadian, ratusan warga sempat terisolasi. Aktivitas belajar mengajar terhenti. Distribusi hasil pertanian tersendat. Pekerja yang biasa hilir-mudik ke Trenggalek tak bisa berangkat.

Sebagai solusi sementara, warga membangun jembatan gantung sederhana sepanjang kurang lebih 40 meter. Materialnya memanfaatkan tali baja, kayu jati, serta besi bekas. Konstruksi darurat itu kini menjadi satu-satunya akses terdekat yang menghubungkan Dusun Purworejo dengan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek.
Setiap hari, sedikitnya 30 hingga 50 orang melintas. Pada hari tertentu, jumlahnya bisa menembus 100 orang.
Bagi pelajar, jembatan gantung itu bukan sekadar penghubung, melainkan jalur penuh risiko. Riski Kurniawan, siswa kelas XII SMAN 1 Bodag asal Ponorogo, mengaku sejak kecil bersekolah di Trenggalek karena lokasinya lebih dekat.
“Sejak TK saya sekolah di Trenggalek. Sekarang kelas XII SMA. Sejak jembatan ambrol, berangkat dan pulang sekolah lewat jembatan gantung ini,” ungkapnya.
Lantai kayu yang bergoyang, kabel baja yang menegang, serta derasnya arus sungai di bawahnya menjadi pemandangan harian yang memacu adrenalin. Satu langkah salah, risiko besar menanti.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo segera membangun kembali jembatan permanen yang lebih kokoh dan tahan banjir. Tanpa solusi jangka panjang, wilayah perbatasan itu akan terus berada dalam situasi rentan. Keselamatan warga dipertaruhkan setiap kali mereka meniti jembatan gantung darurat tersebut. (G.lih)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini