MENGEMBALIKAN PORI-PORI MAGETAN: ANTARA SELOKAN MAMPET DAN TANAH YANG TERKUNCI

0

Oleh: Rudi Stiawan (Koordinator Forum Rumah Kita / FRK)

Setiap kali mendung menggelayut di langit Magetan, ada rasa cemas yang diam-diam merayap di hati
warga Kartoharjo, Barat, hingga mereka yang tinggal di jantung kota. Ingatan kita masih basah oleh genangan air yang masuk ke teras rumah, merusak perabotan, dan melumpuhkan aspal jalanan.

Pertanyaannya sederhana: Mengapa hujan yang dulu adalah berkah bagi petani kita, kini seringkali menyapa sebagai musibah?

Jawabannya bukan sekadar pada intensitas hujan yang tinggi. Masalah kita adalah masalah “jalan pulang”. Air hujan di Magetan saat ini kehilangan jalan untuk mengalir secara horizontal dan kehilangan
pintu untuk pulang ke dalam bumi secara vertikal.

Dosa Pembangunan dan Selokan yang Terlupakan. Kerusakan hutan, bekas tambang mangkarak
dan Pesatnya pembangunan hunian dan perkantoran di Magetan telah mengunci permukaan tanah kita
dengan semen, paving, dan aspal. Tanah kehilangan pori-porinya. Akibatnya, air hujan dipaksa menjadi

“air larian” (run-off) yang memenuhi selokan. Celakanya, selokan-selokan kita seringkali tidak siap.
Sedimen lumpur yang menebal dan tumpukan sampah domestik membuat drainase kita “sesak napas”.
Jika selokan mampet dan tanah tak lagi meresap, banjir bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan sebuah kepastian.

Magetan Kumandhang: Resik Salurane, Nyerep Lemahe Forum Rumah Kita (FRK) hadir tidak
untuk sekadar mengkritik keadaan. Kami menawarkan sebuah gerakan gotong royong masif yang kami
beri tajuk: “Resik Salurane, Nyerep Lemahe”. Ini bukan sekadar program teknis, melainkan gerakan kebudayaan.

Pertama, Resik Salurane. Kita mengajak seluruh warga di 18 Kecamatan untuk kembali ke tradisi luhur:
Kerja Bakti. Normalisasi drainase depan rumah secara mandiri adalah langkah horizontal untuk
memastikan air lancar mengalir ke hilir. Jangan biarkan lumpur dan sampah menjadi penghalang bagi
keberkahan air.

Kedua, Nyerep Lemahe. Kita harus membuka kembali “pintu” bumi melalui teknologi sederhana namun
jenius: Lubang Resapan Biopori (LRB). Dengan membuat lubang sedalam satu meter di halaman rumah, perkantoran, hingga sekolah, kita menciptakan “jalan tol” bagi air untuk kembali ke akuifer tanah. Ini adalah tabungan air bersih bagi anak cucu kita di musim kemarau nanti.

Sinergi Penthahelix: Bukan Kerja Sendiri Gerakan ini mustahil sukses jika hanya menjadi beban
Pemerintah Kabupaten atau obsesi sekelompok aktivis di FRK saja. Ini adalah kerja kolosal. Bupati
sebagai regulator harus mengomandoi birokrasi hingga tingkat RT. Sektor swasta melalui CSR harus hadir menyediakan alat bor yang mumpuni. Dan masyarakat, sebagai pemilik rumah, adalah ujung tombak eksekusi di lapangan.

Kami di Forum Rumah Kita memosisikan diri sebagai dirigen dan pengawas lapangan agar gerakan ini tidak berhenti pada seremonial belaka. Data harus terukur, setiap lubang harus terverifikasi, dan setiap
meter selokan harus benar-benar bersih.

Penutup: Panggilan Nurani Menjaga Magetan dari banjir adalah amanah kolektif. Kita tidak bisa
hanya mengandalkan doa tanpa dibarengi dengan angkat cangkul dan bor tanah. Sebelum hujan
berikutnya menyapa dengan amarah, mari kita sapa bumi Lawu ini dengan kepedulian.

Mari kita buktikan bahwa gotong royong adalah teknologi terbaik yang kita miliki. Saat selokan kita bersih dan tanah kita kembali meresap, di situlah Magetan akan benar-benar “Kumandhang” menggema karena ketangguhannya, bukan karena tangis bencananya.
Magetan Kumandhang, Yen Kabeh Tumandang !

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini