POJOKKATA.COM, PONOROGO – Dua pohon beringin di Alun-Alun Ponorogo menjadi saksi lahirnya tradisi baru dalam rangkaian Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo. Untuk kali pertama, kawasan di antara dua pohon tersebut dipenuhi tumpeng dari organisasi perangkat daerah (OPD) dan kecamatan melalui tradisi bertajuk TURANGIN (Tumpeng di Antara Dua Beringin), Senin (10/8/2026).
Sebanyak 53 tumpeng dikumpulkan di sekitar dua pohon beringin. Tumpeng-tumpeng tersebut tidak sekadar menjadi sajian dalam perayaan hari jadi. Di balik tradisi itu, tersimpan pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, sekaligus refleksi perjalanan panjang Ponorogo.
Bunda Lisdyarita menyampaikan, TURANGIN menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan Ponorogo selama 530 tahun. Pemilihan dua beringin sebagai lokasi prosesi pun bukan tanpa alasan.
Beringin selama ini dikenal sebagai simbol keteduhan dan pengayoman. Akar yang kuat serta dahan yang lebat membuat pohon tersebut mampu menaungi siapa saja yang berada di bawahnya.
Filosofi itu diharapkan menjadi gambaran bagi Ponorogo. Daerah yang memiliki akar sejarah kuat dan budaya luhur tersebut diharapkan terus berkembang tanpa kehilangan kemampuan memberikan rasa aman, nyaman, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Semoga Ponorogo juga demikian, memiliki akar sejarah yang kuat, budaya yang kokoh, masyarakat yang guyub, dan pemerintahan yang mampu memberikan keteduhan serta pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkapnya.
Makna filosofis juga melekat pada tumpeng. Bentuk nasi yang menjulang ke atas dengan lauk-pauk mengelilinginya menjadi gambaran rasa syukur, kebersamaan, dan tenggang rasa di tengah keberagaman.
“Tumpeng yang menjulang ke atas mengingatkan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lauk-pauk yang mengelilinginya mengajarkan tentang keberagaman yang tetap memiliki arti dalam kebersamaan,” jelasnya.
Setelah seluruh tumpeng terkumpul dan prosesi doa dilakukan, sajian tersebut kemudian dinikmati bersama. Kebersamaan itu sekaligus menjadi pesan bahwa perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk memecah persatuan.
“Ketika tumpeng ini kita nikmati bersama, pesan yang ingin kami sampaikan adalah Ponorogo boleh berbeda, tetapi tetap harus satu. Ponorogo boleh memiliki banyak pilihan, tetapi harus tetap rukun. Ponorogo boleh berkembang, tetapi tidak boleh kehilangan jati diri,” tegasnya.
TURANGIN pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni dalam peringatan Hari Jadi ke-530 Ponorogo. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah harus berjalan beriringan dengan kekuatan budaya, persatuan masyarakat, serta semangat gotong royong. (Gal/PK)



