Yakuza Maneges Deklarasi di Bumi Reog Ponorogo, Sebenarnya Organisasi Apa Ini?

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Penampilan serba hitam dengan topi khas yang identik dengan kelompok Yakuza Jepang mencuri perhatian dalam deklarasi organisasi Yakuza Maneges di Gedung Sasana Praja Ponorogo, Selasa (3/11/2026). Namun, di balik nama dan penampilan yang terkesan sangar tersebut, organisasi ini membawa misi sosial dan dakwah.

Yakuza Maneges resmi mendeklarasikan diri sekaligus melantik jajaran pengurus di Bumi Reog. Organisasi yang digagas ulama muda asal Kediri, Gus Thuba atau Thuba Topo Broto Maneges, itu hadir sebagai wadah pembinaan spiritual dan sosial bagi masyarakat yang ingin memperbaiki diri.

Nama Yakuza memang lekat dengan organisasi kriminal asal Jepang. Namun, Gus Thuba menegaskan, penggunaan nama tersebut memiliki filosofi berbeda.

Bukan untuk membangun identitas kriminal, melainkan simbol transformasi bagi orang-orang yang ingin meninggalkan masa lalu dan menapaki jalan kebaikan.

“Di sini bukan lagi identitas organisasi kriminal, tetapi simbol transformasi para pejuang. Kami juga menegaskan bahwa Yakuza Maneges bukan organisasi yang berdiri berseberangan dengan negara, melainkan hadir untuk mendukung dan berjalan bersama aparat penegak hukum,” ujar Gus Thuba dalam kutibannya.

Berada di bawah naungan Majelis Sema’at Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin, Yakuza Maneges membawa pendekatan dakwah yang merangkul berbagai kalangan. Terutama mereka yang selama ini merasa jauh dari lingkungan keagamaan atau pernah terjerumus dalam kehidupan yang dianggap menyimpang.

Pendekatan tersebut dikenal dengan istilah “Santri Jalur Kiri”. Sebuah konsep dakwah yang tidak membatasi syiar agama di lingkungan masjid dan pesantren, tetapi juga menyentuh ruang sosial dan kelompok masyarakat yang selama ini luput dari perhatian.

Deklarasi tersebut turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita, S.H.
Perempuan yang akrab disapa Bunda Lis itu menyampaikan apresiasi atas kehadiran Yakuza Maneges di Kabupaten Ponorogo.

Lisdyarita mengaku sempat terkejut ketika pertama kali mendengar nama organisasi tersebut. Namun, setelah mengetahui filosofi dan tujuan gerakannya, dia justru tertarik dengan pesan perubahan yang dibawa.

“Saya langsung tertarik begitu mendengar filosofinya. Maknanya sangat mendalam: yang awalnya kotor, ujungnya menjadi zuhud abadi,” tuturnya.

Menurut Lisdyarita, istilah Maneges mengandung pesan tentang kejernihan rohani. Setiap manusia, kata dia, memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, terlepas dari latar belakang kehidupan sebelumnya.

Dia berharap Yakuza Maneges bisa menjadi rumah perubahan bagi masyarakat. Terutama dalam merangkul kelompok yang dijuluki

“Santri Jalur Kiri” agar memiliki ruang untuk berhijrah tanpa merasa dihakimi.

Gerakan tersebut juga disebut meneruskan pendekatan dakwah almarhum KH Hamim Tohari Djazuli atau Gus Miek, yang merupakan kakek Gus Thuba. Dakwah dilakukan dengan pendekatan humanis, menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompok yang selama ini berada di luar lingkungan keagamaan formal.

Pemkab Ponorogo pun berharap kehadiran organisasi tersebut tidak sebatas deklarasi. Melainkan mampu memberikan kontribusi nyata melalui kegiatan sosial, pembinaan rohani, serta membangun sinergi dengan para kiai dan unsur masyarakat.

Prosesi pelantikan dan deklarasi ditutup dengan penyerahan cenderamata, lantunan gending, serta penampilan seni Reog Ponorogo. Perpaduan tersebut sekaligus menjadi penanda diperkenalkannya Yakuza Maneges kepada masyarakat Ponorogo. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini