POJOKKATA.COM, MAGETAN — Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Magetan terus memperkuat fondasi pembinaan pencak silat prestasi. Salah satunya melalui Diklat Wasit Juri yang digelar pada 17–18 Januari 2026 di Padepokan PSHT Ranting Bendo, Kabupaten Magetan.
Kegiatan ini diikuti 34 peserta utusan ranting se-Magetan.
Ketua PSHT Cabang Magetan Nanang Budi Setyaji menegaskan, kualitas pertandingan tidak hanya ditentukan kesiapan atlet, tetapi juga ditopang perangkat pertandingan yang profesional.
Wasit dan juri yang memahami aturan serta menjunjung sportivitas menjadi kunci terciptanya kompetisi yang sehat.
“Penguatan perangkat pertandingan ini bagian dari pembinaan prestasi. Kompetisi yang baik harus dijaga oleh wasit-juri yang paham aturan dan berintegritas,” tegas Nanang.
Menurutnya, pelatihan wasit-juri perlu dilakukan secara berkelanjutan dan berjenjang. Kader-kader muda yang diproyeksikan menjadi perangkat pertandingan harus disiapkan sejak dini agar siap mengawal pertandingan resmi, baik di tingkat lokal maupun agenda pembinaan berikutnya.
Ketua Panitia Diklat Wasit Juri PSHT Cabang Magetan Boy Sukresno menyebut, diklat ini dirancang untuk menstandarkan kemampuan wasit dan juri. Tujuannya, agar keputusan yang diambil di arena pertandingan semakin objektif, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan.
“Peserta adalah utusan ranting se-Magetan. Mereka kami siapkan sebagai bibit muda wasit-juri agar ke depan kualitas pertandingan semakin terjaga,” ujar Boy, Minggu (18/1).
Boy menambahkan, kebutuhan perangkat pertandingan yang berkualitas semakin meningkat seiring padatnya agenda pembinaan dan kompetisi. Karena itu, kaderisasi wasit-juri tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan melalui pelatihan yang terukur dan konsisten.
Dalam diklat tersebut, PSHT Cabang Magetan menghadirkan pemateri dari Wasit Juri IPSI Kabupaten Magetan. Kolaborasi ini dilakukan untuk menyelaraskan pemahaman regulasi pertandingan sekaligus memperkuat standardisasi kompetensi.
Materi yang diberikan meliputi peraturan pertandingan, mekanisme penilaian, etika dan sikap wasit-juri, hingga simulasi praktik memimpin pertandingan. Panitia menekankan ketelitian, ketegasan, serta konsistensi sebagai karakter dasar perangkat pertandingan.
“Wasit-juri harus paham aturan, tapi juga punya ketenangan, keberanian, dan integritas saat mengambil keputusan,” tegas Boy.
Usai mengikuti diklat, para peserta ditargetkan dapat terlibat langsung sebagai perangkat pertandingan pada agenda pembinaan selanjutnya, baik di kegiatan internal PSHT maupun penugasan lain sesuai kebutuhan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pencak silat prestasi di Kabupaten Magetan. (Gal/PK)



