Reog Kolosal Tadarus Budaya Gegap Gempita di Alun-Alun Ponorogo

0

POJOKKATA.COM, Ponorogo – Pertunjukan reog kolosal kembali menggema di depan Paseban Alun-Alun Ponorogo, Jumat (6/3) malam. Event bertajuk Tadarus Budaya itu digelar sebagai penanda kebanggaan setelah Reog Ponorogo resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO.

Sebanyak 150 pembarong dadak merak tampil bersama ratusan penari jathil dan puluhan Bujangganong. Sepanjang Jalan Aloon-Aloon Utara pun berubah menjadi lautan penonton yang larut dalam gegap gempita pertunjukan khas Bumi Reog tersebut.

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita bahkan turut larut di tengah barisan penari jathil yang sedang menunjukkan kebolehannya. Bunda Lis –sapaan Lisdyarita– mengatakan, Tadarus Budaya menjadi momentum menapak tilas perjuangan panjang sebelum Reog Ponorogo diakui dunia.

Menurut dia, pengakuan itu diperoleh pada 3 Desember 2024 lalu melalui sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (ICH) di Paraguay.

“Sudah kali ketiga kita menggelar Tadarus Budaya yang waktunya bertepatan dengan pertengahan Ramadan,” ujar Bunda Lis.

Dia mengapresiasi kebersamaan para seniman yang terus menjaga tradisi pertunjukan reog kolosal tersebut. Upaya pelestarian juga dilakukan melalui kebijakan pendidikan, yakni menjadikan kesenian Reog Ponorogo sebagai muatan lokal wajib mulai dari jenjang PAUD hingga SMA sederajat.

Selain itu, Pemkab Ponorogo rutin menggelar Festival Reog Remaja (FRR) dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) setiap tahun sebagai ruang regenerasi seniman.

“Reog Ponorogo sudah menjadi warisan budaya dunia, mari kita jaga bersama kelestariannya,” tegasnya.

Sementara itu, tokoh seniman Reog Ponorogo Hari Purnomo atau yang akrab disapa Mbah Pur menilai Tadarus Budaya menjadi simbol eksistensi para seniman. Terlebih, pertunjukan digelar menjelang sahur yang sarat makna religius.

“Tanpa kecuali, Tadarus Budaya yang berlangsung setiap peringatan Ramadan,” ungkapnya.

Menurut Mbah Pur, kegiatan tersebut sekaligus menandai kesiapan para seniman dalam menyambut bulan suci Ramadan. Ia juga mengapresiasi keterlibatan pemimpin daerah yang menunjukkan kecintaan terhadap kesenian Reog.

“Jathil-jathil Reog Ponorogo harus bangga, karena saat ini Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita juga bisa menari jathil,” ujarnya.

Dia juga menyinggung tradisi pertunjukan reog menjelang sahur yang selama ini masih diperbolehkan selama tetap menjaga ketertiban dan nilai budaya.

“Pertunjukan reog menjelang sahur tidak dilarang oleh kepolisian. Itu hal yang baik, tapi yang perlu digarisbawahi jangan sampai ada minuman keras saat pertunjukan,” tegasnya. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini