POJOKKATA.COM, PONOROGO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ponorogo menjadi sorotan setelah beredarnya video menu ikan bandeng presto yang diduga berisi belatung. Video tersebut viral di media sosial dan memicu keluhan dari sejumlah orang tua wali murid.
Rekaman video yang diunggah pada Jumat (6/3) melalui akun TikTok memperlihatkan menu bandeng presto dalam kemasan vakum yang disebut berasal dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Ngrayun. Dalam video itu, perekam menunjukkan kemasan makanan yang masih tertutup rapat.
“MBG SMA, mana ini set (belatung). Kelihatan nggak ini?” ujar perekam dalam video tersebut. Ia juga memastikan bahwa kemasan makanan belum dibuka.
“Masih gres ya ini, belum dibuka,” katanya.
Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan telah ditonton lebih dari 330 ribu kali oleh warganet.
Menanggapi viralnya video tersebut, Pemerintah Kabupaten Ponorogo segera menggelar rapat koordinasi bersama pihak terkait untuk mengevaluasi pelaksanaan program MBG.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan pentingnya memperkuat komunikasi antara seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan SPPG agar kualitas makanan bagi para penerima manfaat tetap terjaga.
Menurutnya, koordinasi antara penyedia makanan, pengelola program, hingga pengawas sangat menentukan terpenuhinya standar keamanan dan kualitas pangan.
Sementara itu, Direktur Sistem Pemenuhan Gizi Eni Indarti menegaskan pihaknya tidak akan ragu memberikan sanksi kepada SPPG yang terbukti melanggar standar yang telah ditetapkan.
“Sanksi dapat berupa penghentian sementara atau suspensi operasional apabila ditemukan pelanggaran terkait kualitas menu maupun standar pengolahan di dapur,” ujarnya.
Di sisi lain, SPPG Cahaya Ngrayun akhirnya memberikan klarifikasi terkait temuan tersebut. Pihak pengelola dapur MBG menyampaikan permintaan maaf kepada publik sekaligus mengakui adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan Sabtu (7/3), pengelola menjelaskan bahwa bandeng presto yang dibagikan kepada siswa tidak diproduksi langsung di dapur SPPG. Produk tersebut dibeli dari pemasok, sementara proses pengemasan dilakukan di dapur menggunakan metode vakum.
“Kami membeli bandeng presto dari supplier dan melakukan packing vakum di dapur,” ujar pihak pengelola.
Menu tersebut merupakan bandeng presto tulang lunak yang memiliki tekstur lembek serta aroma amis khas ikan bandeng.
Meski proses pengemasan dan distribusi diklaim telah mengikuti standar keamanan pangan dengan penggunaan alat pelindung diri (APD), pihak SPPG mengakui adanya kelalaian yang menyebabkan munculnya belatung pada menu tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG Cahaya Ngrayun memastikan akan memberikan menu pengganti kepada siswa yang menerima makanan tersebut. Penggantian direncanakan dilakukan pada distribusi MBG berikutnya, Senin (9/3).
“Sebagai bentuk tanggung jawab, kami akan memberikan pengganti menu bandeng presto yang tidak layak,” jelasnya.
Penggantian menu itu dipastikan tidak menggunakan anggaran program MBG dari Badan Gizi Nasional (BGN), melainkan ditanggung sepenuhnya oleh pihak mitra.
“Kami memohon maaf atas kegaduhan dan keteledoran ini. Ke depan kami akan lebih berhati-hati, terutama untuk jenis makanan yang berisiko tinggi,” pungkasnya.
Pemerintah daerah berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program MBG tetap berjalan sesuai standar keamanan pangan dan tujuan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. (*)



