POJOKKATA.COM, Ponorogo – Warna-warni puluhan balon udara sempat menghiasi langit di Sirkuit Motocross Jurang Gandul, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan, Minggu (29/3/2026). Ribuan warga tumpah ruah sejak pagi untuk menyaksikan gelaran Reog Balloon Carnival (RBC) 2026 yang digagas sebagai wadah aman tradisi balon udara saat Lebaran.
Sebanyak 44 peserta ambil bagian dalam festival tersebut. Rinciannya, 22 peserta berasal dari perwakilan kecamatan di Ponorogo dan 22 lainnya dari komunitas balon udara asal Wonosobo. Event ini diinisiasi Polres Ponorogo dengan dukungan Pemkab Ponorogo sebagai upaya menekan praktik penerbangan balon liar yang berisiko tinggi.
Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo mengungkapkan, daerahnya sempat menjadi penyumbang balon udara liar terbanyak kedua. Kondisi itu berpotensi menimbulkan berbagai bahaya, mulai dari ledakan petasan, kebakaran, hingga gangguan penerbangan.
“Melalui Reog Balloon Carnival, masyarakat bisa menyalurkan hobi secara positif dan lebih aman,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya berencana meningkatkan skala acara menjadi lebih besar dengan konsep dua hari pelaksanaan, mencakup kategori lokal dan nasional. Koordinasi dengan pemerintah daerah pun telah dilakukan.
Dukungan juga datang dari Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo Lisdyarita. Menurutnya, festival ini berpotensi menjadi ikon baru pariwisata daerah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
“Kalau ini berkembang, dampaknya akan terasa bagi masyarakat, terutama sektor UMKM,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, balon udara ditambatkan menggunakan tali untuk menjaga ketinggian tetap aman. Bahan bakar yang digunakan pun lebih ramah lingkungan, yakni asap dari serabut kelapa yang menghasilkan warna putih, menambah estetika balon.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, pelaksanaan RBC 2026 tak sepenuhnya berjalan mulus. Harapan pengunjung untuk menyaksikan puluhan balon terbang sempurna harus pupus. Sebagian besar balon gagal mengudara secara optimal.
Sejumlah balon terlihat terbang miring, lepas kendali, bahkan ada yang terbakar di udara. Insiden tersebut juga sempat berdampak pada balon lain yang masih dalam proses penerbangan.
Gianto, warga Karanganyar, Ngrupit, Jenangan, mengaku kecewa karena tidak menyaksikan balon yang benar-benar terbang stabil.
“Saya datang jam 06.30 sampai jam 09.00. Hanya ada satu balon yang terbang, itu pun lepas kendali,” ungkapnya.
Ia menduga faktor angin kencang serta kurangnya kesiapan teknis menjadi penyebab utama kegagalan tersebut.
Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Arus lalu lintas di sekitar lokasi terpantau padat oleh pengunjung yang ingin melihat langsung festival. Selain atraksi balon udara dengan berbagai lukisan, pengunjung juga disuguhi hiburan reyog obyog dan live musik.
Festival yang digelar untuk memeriahkan Idul Fitri 1447 Hijriah ini sejatinya diharapkan menjadi magnet wisata baru. Namun, kegagalan sejumlah balon untuk terbang optimal menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan di masa mendatang. (Gal/PK)



