POJOKKATA.COM, KEBUMEN – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam panen tambak udang berbasis kawasan (BUBK) di Kebumen dinilai menjadi sinyal kuat bahwa sektor perikanan budidaya menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping menyebut, panen langsung yang dilakukan presiden bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan budidaya udang vaname memiliki potensi besar untuk menopang kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus mendongkrak ekspor nasional.
“Presiden hadir untuk panen ini memberikan instruksi bahwa budidaya itu penting dan menjadi pilar kesejahteraan rakyat. KKP harus optimalkan dan tancap gas mengelola udang vaname,” ujar Riyono, Minggu (25/5).
Menurut dia, sektor budidaya udang nasional terus menunjukkan tren positif di tengah tantangan pasar global. Kasus penolakan produk udang akibat temuan cesium 37 di Amerika Serikat disebut menjadi pelajaran penting agar Indonesia memperkuat sistem budidaya sehat dan bebas bahan berbahaya.
Riyono memaparkan, produksi sektor budidaya perikanan nasional pada 2024 mencapai 17,4 juta ton. Sementara produksi udang vaname mengalami lonjakan signifikan dalam lima tahun terakhir.
Pada 2020, produksi udang nasional tercatat sekitar 550 ribu ton. Angka itu naik menjadi 650 ribu ton pada 2021 dan menembus 1,2 juta ton pada 2024.
“Artinya dalam lima tahun terakhir kenaikan produksi udang vaname bisa lebih dari 100 persen. Hampir 80 persen adalah kualitas ekspor,” tambahnya.
Dalam panen parsial BUBK Kebumen, hasil yang diperoleh mencapai sekitar 43 ton dari total lahan seluas 20 hektare. Riyono memperkirakan jika pengelolaan berjalan optimal hingga panen penuh, produksi bisa mencapai lebih dari 150 ton dengan nilai ekonomi di atas Rp10 miliar.
Karena itu, dia mendorong perusahaan pelat merah ikut mengambil peran dalam pengelolaan kawasan budidaya tersebut. Menurutnya, setelah KKP membangun infrastruktur dan fondasi bisnis, pengelolaan selanjutnya harus dilakukan secara profesional agar memberikan keuntungan bagi negara.
“Waktunya sekarang BUMN yang harus mengelola BUBK ini. KKP sudah membangun dan memberikan pondasi usaha bisnisnya. Agrinas dan Perindo harus bisa mengelola dengan baik sehingga bisa menguntungkan. BUMN bisnis udang harus untung,” tegasnya.
Riyono menilai kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan, Menko Pangan, serta jajaran BUMN dalam panen bersama Presiden Prabowo menjadi bukti bahwa sektor budidaya udang diproyeksikan sebagai bisnis strategis nasional.
Dia optimistis Indonesia masih memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri udang dunia. Apalagi konsumsi udang global pada 2025 diperkirakan mencapai 6,2 juta ton, sementara produksi dunia kini telah menembus lebih dari 6 juta ton.
“Indonesia saat ini produsen nomor lima dunia setelah China, Ekuador, India, dan Vietnam. Perjuangan Indonesia menjadi pemain udang nomor satu masih sangat mungkin,” pungkas Riyono. (Gal/PK)



