POJOKKATA.COM, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS Riyono Caping menilai target swasembada gula yang dicanangkan Presiden Prabowo pada 2028 hanya dapat tercapai jika kebijakan pemerintah benar-benar berpihak kepada petani tebu.
Menurutnya, peningkatan produktivitas petani menjadi faktor utama untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gula.
Riyono mengatakan, target tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Konsumsi pada 2028 dan Swasembada Gula Industri pada 2030. Namun, keberhasilannya membutuhkan dukungan politik kebijakan dan anggaran yang memprioritaskan sektor pertanian.
“Cita-cita Presiden untuk swasembada gula harus diwujudkan dalam politik kebijakan dan anggaran yang berpihak kepada petani dan rakyat,” ujar Riyono.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia masih mengimpor 5,069 juta ton gula sepanjang 2023 dengan nilai mencapai US$2,88 miliar atau sekitar Rp44,33 triliun. Impor tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi maupun industri yang sebagian besar berbentuk gula kristal mentah.
Riyono mengingatkan, Indonesia juga pernah menargetkan swasembada gula pada 2020, namun gagal terealisasi. Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah semakin banyak petani yang enggan menanam tebu karena keuntungan yang dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil kunjungan ke berbagai sentra tebu dan pertemuan dengan petani maupun pengelola pabrik gula, persoalan yang dihadapi relatif sama, yakni rendahnya keuntungan usaha tebu yang berdampak pada menurunnya minat petani.
Menurut Riyono, peningkatan kualitas bibit menjadi salah satu solusi utama. Ia menilai rendemen tebu harus ditingkatkan hingga 8–10 persen dari rata-rata saat ini sekitar 7 persen. Selain itu, produksi tebu nasional juga perlu ditingkatkan agar mampu menghasilkan sekitar 5 juta ton gula per tahun, jauh di atas kebutuhan nasional yang diperkirakan sekitar 3 juta ton.
“Kuncinya ada di bibit tebu yang berkualitas dengan hasil rendemen minimal 8–10 persen. Kalau produksi bisa mencapai 5 juta ton per tahun, Indonesia bisa swasembada,” katanya.
Selain peningkatan produktivitas di tingkat petani, Riyono juga mendorong revitalisasi pabrik gula yang dinilai sudah tidak lagi kompetitif. Ia menyoroti banyaknya pabrik gula yang berusia mendekati satu abad sehingga tidak efisien dari sisi produksi.
Rencana penutupan 23 dari total 45 pabrik gula, lanjutnya, juga menimbulkan kekhawatiran terhadap nasib sekitar 1,7 juta tenaga kerja yang bergantung pada industri tersebut. Sementara itu, pembangunan 28 pabrik gula baru masih berada pada tahap perencanaan.
Riyono menegaskan, keberhasilan swasembada gula tidak hanya diukur dari tercukupinya pasokan dalam negeri, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan petani tebu.
“Jadikan petani tebu senang menanam dan beli dengan harga yang bagus, maka mereka akan sejahtera. Swasembada bukan hanya soal jumlah dan ketersediaan, tetapi juga kesejahteraan yang sistematis,” pungkasnya. (Gal/PK)



