POJOKKATA.COM, MAGETAN – Penolakan terhadap rencana eksplorasi panas bumi atau geotermal di kawasan Gunung Lawu disuarakan dengan cara tak biasa. Sejumlah pegiat lingkungan dan relawan memilih berlari sekitar 150 kilometer dari kawasan Lawu menuju kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang.
Aksi lintas provinsi bertajuk lari Gunung Lawu–Semarang tersebut dimulai Selasa (22/9/2026) pukul 13.00. Titik start berada di gapura perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. Rombongan dijadwalkan tiba di Semarang pada Kamis (24/9/2026).
Rute yang ditempuh meliputi Karanganyar, Solo, Boyolali, Salatiga, Ungaran, hingga Semarang. Sepanjang perjalanan, peserta tak sekadar mengejar jarak. Mereka membawa pesan penolakan terhadap rencana eksplorasi geotermal sekaligus kampanye perlindungan ekosistem Gunung Lawu.
Koordinator aksi, Anso Panudin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk protes sekaligus kampanye lingkungan. Momentum aksi juga dikaitkan dengan peringatan Hari Tani.
Anso menyoroti kembali penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di kawasan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Menurut dia, kawasan tersebut secara ekologis masih menjadi bagian dari ekosistem Gunung Lawu.
“Pemerintah menetapkan WKP yang dulu sudah dibatalkan, ini dibuka kembali di Jenawi. Dan mengatakan bahwa WKP di Jenawi bukan bagian dari Lawu. Bagi kami itu pembodohan bagi masyarakat,” ujar Anso saat ditemui di kawasan Bancolono, perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, Selasa (22/9).
Dia menegaskan, masyarakat dan relawan yang terlibat dalam aksi tersebut memandang Jenawi tidak bisa dipisahkan dari kawasan Lawu.
“Jenawi itu juga bagian dari Gunung Lawu. Makanya kami sebagai masyarakat asli Kabupaten Karanganyar juga semua relawan yang ada di sini. Ini pegiat-pegiat Gunung Lawu semuanya,” katanya.
Tiga Pelari Tempuh Rute Penuh
Tak semua peserta akan berlari sepanjang 150 kilometer. Anso menyebut tiga pelari akan menempuh rute secara penuh. Sementara peserta lainnya mengikuti perjalanan secara estafet.
“Full lari tiga orang. Mas Jani, Mas Jumanti, sama Mbak Yanti. Selebihnya nanti estafet sampai di Semarang,” ungkapnya.
Sejumlah titik istirahat telah disiapkan sepanjang perjalanan. Rombongan dijadwalkan singgah di Solo Square sebelum melanjutkan perjalanan menuju Boyolali dan beristirahat di Panti Asuhan Yatim Boyolali (PAYB).

Dari Boyolali, rombongan bergerak menuju Ungaran. Di sana, mereka akan bertemu dengan aktivis lingkungan setempat yang juga menyuarakan penolakan terhadap geotermal.
Menurut Anso, perjalanan tersebut sengaja tidak dibuat sekadar sebagai aksi lari. Ada agenda kampanye dan diskusi dengan komunitas di sejumlah daerah yang dilewati.
“Kita tempuh sampai tanggal 24. Sebenarnya kita tempuh langsung bisa. Tapi, ada kampanye-kampanye yang memang kita sampaikan di jalan, di komunitas-komunitas,” ujarnya.
Di Boyolali, peserta juga dijadwalkan menggelar diskusi. Sedangkan di Ungaran, mereka akan bertemu kelompok lingkungan sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang.
Setibanya di kantor gubernur pada 24 September, rombongan akan menyampaikan pesan penolakan terhadap eksplorasi geotermal. Mereka juga membawa isu tersebut sebagai bagian dari momentum Hari Tani.
Khawatir Air hingga Situs Sejarah
Anso mengatakan, penolakan tersebut tidak semata-mata didasari sikap antipanas bumi. Mereka mengaku telah mempelajari sejumlah proyek geotermal di daerah lain, termasuk kawasan Dieng.
Bagi mereka, kawasan gunung memiliki fungsi ekologis yang lebih luas, terutama sebagai sumber air bagi masyarakat di sekitarnya.
“Bagi kami, gunung itu ibu kami. Sudah lah, energi lain. Ada matahari yang luar biasa. Kemudian, di sepanjang bantaran pantai juga bisa pakai tenaga angin. Kenapa pemerintah dari dulu nekat membawa isu geotermal ini di tapak-tapak gunung?” ujarnya.
Ketersediaan air menjadi salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan para relawan. Selain itu, mereka menyoroti keberadaan situs peninggalan sejarah di kawasan Lawu, termasuk Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Candi Kethek.
“Terutama di Gunung Lawu, satu, ketersediaan air. Gunung Lawu ini banyak situs-situs peninggalan sejarah. Ada Candi Cetho, ada Candi Sukuh, ada Candi Kethek,” katanya.
Mereka juga khawatir perubahan ekosistem akan berdampak terhadap kehidupan masyarakat di lereng Lawu, terutama petani yang bergantung pada kondisi lingkungan dan sumber air.
Menurut Anso, persoalan tersebut tidak hanya menjadi kepentingan satu daerah. Gunung Lawu berada di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah sehingga dampak ekologisnya dinilai berkaitan dengan masyarakat lintas wilayah.
Soroti Privatisasi Wisata
Selain geotermal, aksi tersebut membawa isu lain. Yakni penolakan terhadap privatisasi wisata di lereng Gunung Lawu.
Anso mengklaim menemukan sejumlah usaha wisata yang dikelola pihak luar. Menurut dia, perkembangan wisata semestinya tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan kearifan lokal.
“Yang pertama tolak geotermal, yang kedua privatisasi wisata. Jadi privatisasi wisata yang luar biasa di lereng Lawu ini,” katanya.
“Banyak pengusaha-pengusaha dari luar yang tahu-tahu punya usaha di sini tanpa memperhatikan ekologi, tanpa memperhatikan kearifan lokal yang ada di sini,” imbuhnya.
Dikawal Puluhan Relawan
Aksi lari tersebut mendapat dukungan dari komunitas pelari dan relawan di sepanjang rute. Jainudin, pelari sekaligus anggota Jogo Lawu, mengatakan kebutuhan logistik dan titik istirahat peserta disiapkan bersama komunitas.
“Yang penting untuk persiapannya itu membantu teman-teman. Semua dari Jateng Guyub, puluhan relawan. Semuanya untuk Jateng Lawu. Sama Relawan SAR juga,” ujar Jainudin.
Peserta menargetkan perjalanan sekitar 75 kilometer per hari. Solo menjadi salah satu titik penting sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Boyolali, Ungaran, hingga Semarang.
Menurut Jainudin, pesan yang dibawa dalam aksi tersebut bukan hanya soal penolakan geotermal, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat sekitar, termasuk petani.
“Targetnya dua hari. Itu nanti per 75 kilometer. 75 kilometer nanti dilanjut besok harinya. Yang pasti kita menyuarakan tentang penolakan geotermal. Dan juga ini berdampak ke masyarakat. Terus para petani juga,” ungkapnya. (Gal/PK)



