POJOKKATA.COM, MAGETAN – Potensi gesekan antarperguruan silat menjadi perhatian Polres Magetan. Mengantisipasi dinamika tersebut, jajaran kepolisian menggelar Operasi Aman Mataraman Semeru 2026. Operasi cipta kondisi itu berlangsung 22–28 September dengan melibatkan personel gabungan TNI-Polri, pemerintah daerah, serta sejumlah instansi terkait.
Apel gelar pasukan dilaksanakan Senin (21/9/2026) dan dipimpin Kapolres Magetan AKBP Dr. Raden Erik Bangun Prakasa. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Sekda Magetan Welly Kristanto, Danyon Parako 471 Kopasgat Letkol Pas Amrin, Kasdim 0804/Magetan, Ketua PSHT Cabang Magetan, serta para ketua dan pengurus perguruan pencak silat yang tergabung dalam IPSI.
Operasi tersebut digelar seiring meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat terkait rangkaian agenda besar salah satu perguruan pencak silat di Kota Madiun. Kondisi itu dinilai berpotensi meningkatkan dinamika keamanan di kawasan Mataraman, termasuk Magetan yang menjadi wilayah perbatasan sekaligus jalur perlintasan.
Tak ingin kecolongan, Polres Magetan menyiapkan kekuatan gabungan cukup besar. Sedikitnya enam SSK personel Polres Magetan diterjunkan. Selain itu terdapat satu SST Kodim 0804/Magetan, satu SSK dan dua SST AA Brimob Polda Jatim, serta bantuan personel Dalmas dari Polres Mojokerto, Kediri, dan Jombang.
Kekuatan pengamanan juga didukung personel Intel, Reskrim dan Resnarkoba, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan melalui tim PSC, serta Satpol PP dan Damkar.
Kapolres Magetan AKBP Erik Bangun Prakasa menegaskan, langkah antisipasi dilakukan sejak dini untuk mencegah potensi gangguan kamtibmas berkembang menjadi konflik terbuka.
“Kita menghadapi dinamika situasi yang perlu diantisipasi bersama, khususnya potensi konflik atau gesekan antarperguruan silat,” ujarnya.
Menurut Erik, posisi Magetan yang berbatasan langsung dengan sejumlah wilayah dan menjadi jalur perlintasan utama membuat cipta kondisi harus dilakukan secara terpadu. Pengamanan tidak hanya berorientasi pada penindakan, tetapi lebih mengedepankan pencegahan.
“Antisipasi harus dilakukan sejak dini melalui deteksi dini, patroli, penyekatan di titik tertentu, pengaturan lalu lintas dan komunikasi dengan seluruh perguruan silat,” tegasnya.
Dia juga meminta seluruh personel tidak meremehkan perkembangan situasi. Setiap informasi maupun potensi mobilisasi massa harus dicermati dan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor.
Pendekatan preventif, persuasif, dan humanis menjadi penekanan dalam pelaksanaan operasi. Polisi juga diminta memperkuat komunikasi dengan TNI, pemkab, pengurus perguruan silat, serta elemen masyarakat.
Di lapangan, petugas akan meningkatkan patroli dan pemantauan di sejumlah titik yang dinilai rawan gesekan. Pengamanan jalur perlintasan serta penyekatan juga dilakukan secara situasional berdasarkan perkembangan kondisi.
Personel diminta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. Setiap perkembangan di lapangan harus segera dilaporkan secara berjenjang agar penanganan bisa dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur.
“Yang paling penting adalah membangun kesadaran bersama bahwa perbedaan perguruan bukan alasan untuk terjadi gesekan. Semangat yang harus kita kedepankan adalah persaudaraan, Sing Akur, Kabeh Sedulur,” kata Erik.
Polres Magetan juga mengajak seluruh perguruan pencak silat ikut menjaga kondusivitas wilayah. Pencak silat diharapkan tetap menjadi bagian dari budaya yang mengedepankan disiplin, sportivitas, persaudaraan, dan keluhuran budi.
Jika ditemukan tindakan yang mengarah pada gangguan kamtibmas atau aksi anarkis, personel diminta mengambil langkah sesuai prosedur dan tahapan eskalasi yang berlaku.
Melalui Operasi Aman Mataraman Semeru 2026, aparat bersama pemerintah daerah, perguruan pencak silat, dan masyarakat berupaya memastikan dinamika yang berkembang tidak berubah menjadi konflik yang mengganggu keamanan dan aktivitas warga. (Gal/PK)



