POJOKKATA.COM, MAGETAN – Komitmen menjaga kesehatan santri mengantarkan Pondok Pesantren (Ponpes) Baitul Quran Al Jahra, Kabupaten Magetan, melaju ke tahap verifikasi lapangan Lomba Pesantren Sehat Implementasi Inisiatif, Kolaborasi, Inovasi Pesantren Sehat (IKI PESAT) Jawa Timur 2026. Tim penilai dari tingkat provinsi turun langsung untuk memastikan penerapan program kesehatan di lingkungan pesantren tersebut, Kamis (29/10/2026).
Verifikasi lapangan ini merupakan tahapan lanjutan setelah Ponpes Baitul Quran Al Jahra lolos seleksi yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Dalam prosesnya, ponpes tersebut mendapat pendampingan dari Puskesmas Candirejo.
Program IKI PESAT Jatim bertujuan mendorong terwujudnya pesantren yang sehat, mandiri, dan berdaya tahan. Program ini juga mendukung pendampingan Santri Jatim Sehat dan Berkah (SAJADAH).
Ada tiga pilar utama yang menjadi perhatian dalam penilaian. Yakni promosi kesehatan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), kesehatan lingkungan yang mencakup sanitasi, pengelolaan sampah, dan penyediaan air bersih, serta peningkatan akses layanan kesehatan melalui optimalisasi Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) dan Kader Santri Husada.
Perwakilan Ponpes Baitul Quran Al Jahra, Ustaz Iqbal, menyampaikan apresiasi atas pendampingan lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan para santri. Menurut dia, program tersebut memberikan dampak nyata terhadap kebersihan lingkungan dan kebiasaan hidup sehat di pondok.
“Kami merasakan betul manfaat dari program kesehatan ini. Lingkungan pesantren menjadi lebih bersih, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terlaksana dengan baik, screening kesehatan rutin dilakukan, serta angka sakit di pondok menjadi minimal,” tegas Iqbal.
Penerapan kesehatan di Ponpes Baitul Quran Al Jahra tidak hanya menyentuh aspek kebersihan dan pelayanan medis. Pihak pesantren juga berupaya menanamkan kesadaran kesehatan melalui pendidikan keagamaan.
Salah satunya dengan menyusun kurikulum atau modul khusus yang menghimpun hadis tentang kesehatan serta adab seorang muslim dalam menjaga kesehatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pesantren untuk membangun budaya hidup sehat secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Tim Penilai Malik Afif menjelaskan, verifikasi lapangan dilakukan untuk mencocokkan dokumen dan paparan yang disampaikan pihak pesantren dengan kondisi nyata di lapangan.
Melalui observasi, wawancara, dan pemeriksaan dokumen, tim penilai ingin memastikan bahwa program kesehatan yang dilaporkan benar-benar diterapkan dalam aktivitas sehari-hari para santri.
“Di Jawa Timur terdapat sekitar 7.000 pesantren. Kami berharap melalui sistem lomba ini dapat memberikan efek yang baik bagi pesantren dan masyarakat luas,” ungkap Malik.
Malik juga mengapresiasi pengelolaan layanan kesehatan di Ponpes Baitul Quran Al Jahra. Menurut dia, sistem pelayanan kesehatan santri di pesantren tersebut sudah berjalan dengan baik, tertata, dan terorganisasi, meski jumlah santrinya cukup banyak.
Praktik baik yang ditemukan selama verifikasi diharapkan dapat menjadi contoh bagi pesantren lain di Jawa Timur. Tidak hanya untuk memenuhi indikator penilaian lomba, tetapi juga mendorong terbentuknya lingkungan pendidikan keagamaan yang bersih, sehat, dan nyaman.
Melalui program IKI PESAT, Ponpes Baitul Quran Al Jahra diharapkan mampu memperkuat budaya hidup sehat di kalangan santri sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat sekitar. Verifikasi ini juga menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa upaya menjaga kesehatan telah menjadi bagian dari keseharian dan tata kelola pesantren. (Gal/PK)



