Mas Ipin Sambang DPC PDI Perjuangan Magetan, Dorong Kebudayaan “Naik Kelas”

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN — Kantor DPC PDI Perjuangan Magetan, Rabu (11/2/2026), tampak lebih hidup dari biasanya. Siang itu, obrolan tak sekadar membahas politik. Diskusi mengalir tentang kebudayaan, generasi muda, hingga bagaimana tradisi lokal bisa berkembang lebih besar tanpa tercerabut dari akarnya.

Di tengah suasana hangat tersebut, hadir Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek yang akrab disapa Mas Ipin itu berbagi pengalaman membangun Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) hingga dikenal luas.

Menurutnya, jaranan bukan sekadar tontonan rakyat. Lebih dari itu, ia adalah identitas budaya yang memiliki peluang menembus panggung internasional.

“Setiap negara punya tarian bertema kuda dengan karakter dan pakem masing-masing. Kenapa tidak kita pertemukan dalam satu panggung? Dari situ kita belajar, berjejaring, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi kita bisa berdialog dengan dunia,” ujar Mas Ipin.

Berangkat dari gagasan tersebut, FJTT dirancang bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Festival dikemas sebagai panggung kolaboratif yang menghadirkan penampil lintas daerah hingga mancanegara. Konsepnya terkurasi, berkelanjutan, dan dibangun sebagai strategi kebudayaan jangka panjang.

Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan, Diana Sasa, menyambut baik pertukaran gagasan itu. Ia menilai Magetan memiliki potensi budaya yang tak kalah kuat.

Namun, pengelolaannya perlu pendekatan yang lebih terkonsep serta melibatkan generasi muda sebagai aktor utama.

“Kebudayaan harus naik kelas. Artinya dikelola dengan serius, dibangun jejaringnya, diberi ruang kreatif, dan dihubungkan dengan ekonomi lokal. Bukan hanya pentas, tapi menjadi ekosistem,” tegas Diana.

Diskusi berkembang pada pentingnya konsistensi event, kualitas manajemen, serta keberanian membuka kolaborasi lintas daerah. Diana menambahkan, kantor partai juga bisa menjadi ruang temu ide-ide kreatif.

“Kantor partai bukan hanya ruang rapat, tetapi tempat lahirnya gagasan kebudayaan dan gerakan kreatif generasi muda,” pungkasnya.

Pertemuan yang berlangsung sederhana itu menyisakan pesan kuat. Kebudayaan tak lagi diposisikan sebagai ornamen. Ia diarahkan menjadi strategi pembangunan daerah—menghubungkan tradisi, anak muda, dan masa depan dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini