Ambisi 10 Tahun Nike “Dicuri” Adidas

0

POJOKKATA.COM, LONDON – Ambisi panjang raksasa apparel olahraga Nike untuk memecahkan batas lari maraton di bawah dua jam akhirnya benar-benar terwujud. Ironisnya, bukan oleh mereka sendiri, melainkan oleh rival utamanya, Adidas.

Selama hampir satu dekade, Nike menggelontorkan riset besar melalui proyek ambisius Breaking2. Targetnya jelas: menembus mitos sub-two marathon—lari sejauh 42,195 kilometer dalam waktu kurang dari dua jam.

Upaya itu sempat mendekati kenyataan ketika pelari Kenya, Eliud Kipchoge, mencatat waktu 1 jam 59 menit 40 detik pada 2019. Namun, catatan tersebut tidak diakui resmi karena dilakukan dalam kondisi tidak kompetitif, dengan bantuan pacers dan dukungan teknis khusus.

Sejak saat itu, rekor sub-two dalam ajang resmi tetap menjadi “mimpi yang tertunda”.

Namun, kejutan datang dari London. Dalam lomba maraton dengan kondisi kompetisi normal, pelari Kenya lainnya, Sebastian Sawe, sukses mencatatkan waktu 1 jam 59 menit 30 detik. Catatan ini menjadikannya pelari pertama yang memecahkan batas dua jam dalam ajang resmi.

Sawe tampil menggunakan sepatu andalan Adidas, Adios Pro Evo 3, yang disebut-sebut telah dikembangkan selama tiga tahun terakhir secara diam-diam.

Tak hanya itu, dominasi Adidas semakin terasa setelah posisi runner-up juga ditempati atlet mereka, Yomif Kejelcha, dengan catatan waktu 1 jam 59 menit 41 detik.

Momentum ini menjadi semacam “power move” bagi Adidas—mengambil alih pencapaian yang selama ini identik dengan ambisi Nike.

Meski demikian, respons Nike justru di luar dugaan. Alih-alih menunjukkan kekecewaan, mereka memilih memberikan apresiasi terbuka kepada Sawe dan Adidas.

Sikap ini dinilai sebagai bentuk sportivitas di tengah rivalitas panjang dua brand global tersebut.

Fenomena saling menghormati ini bukan kali pertama terjadi. Pada 2020, Nike menggaungkan kampanye “Don’t Do It” sebagai respons isu rasial, yang kemudian mendapat dukungan dari Adidas. Di tahun yang sama, Adidas juga memberikan penghormatan kepada legenda basket Kobe Bryant, meski dikenal sebagai ikon Nike.

Begitu pula saat Roger Federer pensiun pada 2022, Adidas tak ragu menyebutnya sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa, meski berada di kubu rival.

Di tengah persaingan industri yang kerap diwarnai ego dan dominasi, momen ini menunjukkan sisi lain: bahwa sportivitas tetap menjadi nilai utama.

Rekor mungkin bisa direbut, ambisi bisa disalip. Namun, cara merespons kekalahan justru menjadi penentu siapa yang benar-benar layak bertahan di panggung tertinggi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini