POJOKKATA.COM, PONOROGO – Ribuan jamaah memadati kawasan Makam Agung Kiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jumat (1/5/2026) malam. Mereka mengikuti Majlis Dzikir Maulidurrasul Muhammad SAW yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo bersinergi dengan Jamaah Al Khidmah Ponorogo.
Kegiatan religius ini menjadi bagian dari peringatan Haul ke-279 Kiai Ageng Muhammad Besari sekaligus rangkaian Dies Natalis ke-56 UIN Ponorogo. Suasana khidmat terasa sejak awal hingga akhir acara. Jamaah dengan tertib mengikuti lantunan dzikir dan doa bersama.
Tak hanya masyarakat umum, kegiatan ini juga dihadiri jajaran sivitas akademika UIN Ponorogo. Mulai dari rektor, wakil rektor, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Sejumlah tokoh agama, kiai, ibu nyai, dan tokoh masyarakat turut hadir.
Mauidhah hasanah disampaikan Drs. KH. M. Muhsin, M.H. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa penamaan UIN dengan nama besar Kiai Ageng Muhammad Besari bukan sekadar simbolik.
“UIN mengambil nama beliau agar kita mampu menyerap nilai-nilai perjuangan, khususnya dalam bidang pendidikan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, Tegalsari bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga pusat lahirnya tradisi keilmuan Islam di masa lampau. Karena itu, semangat perjuangan Kiai Besari dinilai relevan untuk terus dihidupkan dalam dunia pendidikan modern.
Selain itu, Muhsin juga mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Menurutnya, setiap permohonan ampun yang dipanjatkan akan kembali membawa kebaikan bagi diri sendiri.
“Melalui majlis ini, semoga Allah SWT memberikan ampunan dan limpahan pahala kepada kita semua,” imbuhnya.
Menutup tausiyah, pihak UIN Ponorogo memohon doa restu agar seluruh sivitas akademika mampu meneladani kegigihan perjuangan sang ulama.
“Kami berharap nilai-nilai perjuangan beliau terus hidup dan menjadi landasan dalam mencetak generasi berakhlak mulia,” pungkasnya.
Acara berlangsung tertib dan ditutup dengan doa bersama. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga warisan nilai pendidikan dan perjuangan ulama bagi generasi mendatang. (*)



