POJOKKATA.COM, Ponorogo – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Ponorogo. Sebanyak 157 jiwa atau 78 kepala keluarga (KK) di Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, mengalami krisis air bersih akibat sumur-sumur warga mengering.
Hasil asesmen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat warga terdampak tersebar di RT 01/RW 05 dan RT 02/RW 05. Selama ini masyarakat mengandalkan sumur gali sedalam sekitar 12 meter sebagai sumber air utama. Namun, memasuki puncak musim kemarau, debit air terus menyusut. Bahkan, sebagian sumur sudah tidak lagi mengeluarkan air dan hanya menyisakan tetesan di dinding sumur.
Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari air minum, memasak, mandi hingga mencuci. Sebagian warga terpaksa meminta pasokan air dari tetangga yang sumurnya masih mengeluarkan air, meski debitnya juga sangat terbatas.
Sumber mata air alami di sekitar permukiman juga belum mampu menjadi solusi. Debit air yang kecil tidak cukup memenuhi kebutuhan seluruh warga.
Menindaklanjuti laporan masyarakat, BPBD Ponorogo melakukan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki ke Dukuh Bungur. Bantuan itu merupakan tindak lanjut hasil kaji cepat yang dilakukan setelah wilayah tersebut terdampak kekeringan meteorologis pada musim kemarau 2026.
BPBD memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Selain itu, kondisi di Desa Munggu akan terus dipantau bersama pemerintah desa dan instansi terkait apabila kebutuhan air bersih terus meningkat.
Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara hemat serta segera melaporkan apabila mengalami kekurangan air bersih agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Sementara itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Ponorogo turut bergerak membantu warga terdampak. Selasa (4/8), satu truk tangki air bersih diberangkatkan dari depan Pendopo Kabupaten Ponorogo menuju Dusun Bungur, Desa Munggu.
Ketua PMI Ponorogo Luhur Karsanto mengatakan, Dusun Bungur menjadi lokasi pertama penyaluran bantuan air bersih tahun ini. Berdasarkan pemetaan, terdapat sekitar 18 desa di tujuh kecamatan yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan saat musim kemarau.
“Desa Munggu menjadi pelanggan pertama tahun ini. Kami siap melakukan dropping air bersih apabila ada laporan dari wilayah lain,” ujarnya.
Menurut Luhur, PMI telah menyiapkan armada tangki yang akan bergerak secara mobile dan berkoordinasi dengan BPBD Ponorogo agar distribusi bantuan berjalan efektif.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Ponorogo Harjono mengapresiasi langkah PMI yang kembali membantu masyarakat menghadapi krisis air bersih. Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan dukungan berbagai pihak mengingat musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang.
“Kalau prediksi BMKG musim kemarau berlangsung lima sampai enam bulan, tentu membutuhkan antisipasi lebih,” katanya.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau di Jawa Timur berlangsung selama 16 hingga 19 dasarian atau sekitar Mei hingga September bahkan Oktober. Kondisi tersebut membuat potensi kekeringan meningkat di sejumlah wilayah.
BPBD Ponorogo pun telah memetakan kawasan rawan kekeringan. Selain Desa Munggu dan Belang di Kecamatan Bungkal, wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih berada di Kecamatan Slahung, Sawoo, Sampung, Jambon, Pulung, hingga Sooko. Pemerintah berharap langkah antisipasi sejak dini mampu meminimalkan dampak kekeringan terhadap kebutuhan air bersih masyarakat. (Gal/PK)



