POJOKKATA.COM, MAGETAN – Gempa bumi bukan hanya ancaman bagi wilayah pesisir. Masyarakat Kabupaten Magetan yang berada jauh dari laut juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa yang bersumber dari sesar darat.
Peringatan itu disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Nganjuk saat menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Magetan di Harmadha Joglo, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan bertema Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempa Bumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045 tersebut sekaligus diwarnai simulasi penanganan gempa. Peserta diajak mempraktikkan langkah yang harus dilakukan ketika guncangan terjadi hingga proses evakuasi.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan, sumber gempa yang perlu diwaspadai tidak hanya berada di laut. Sesar-sesar yang berada di daratan justru perlu mendapat perhatian karena lokasinya relatif dekat dengan permukiman.
“Potensi yang lebih berbahaya adalah sesar-sesar darat yang ada di bawah kita. Karena sesar darat itu lokasinya dekat dengan kita dan kejadian yang sudah terjadi, walaupun magnitudonya tidak besar, kedalamannya dangkal,” kata Teguh.
Menurut dia, kedalaman sumber gempa menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat dampak guncangan di permukaan. Gempa dengan magnitudo tidak terlalu besar tetap dapat menimbulkan kerusakan signifikan apabila sumbernya berada pada kedalaman relatif dangkal.
Persoalan tersebut diperparah dengan kondisi bangunan yang belum seluruhnya menerapkan konstruksi tahan gempa. Kondisi serupa, kata Teguh, masih banyak ditemukan di berbagai daerah.
“Ketika kedalamannya dangkal, kerusakannya bisa sangat masif. Kita semua paham bahwa di wilayah kita belum banyak yang mempunyai bangunan-bangunan tahan gempa,” ujarnya.
Karena itu, BMKG menilai mitigasi tidak bisa hanya mengandalkan respons ketika bencana sudah terjadi. Kesiapsiagaan masyarakat sebelum, saat, dan setelah gempa menjadi bagian penting untuk menekan risiko korban maupun kerusakan.
“Kita tidak bisa menghindar dari yang namanya bencana. Karena itu yang kita lakukan adalah persiapan, mitigasi, dan memperkuat mitigasi,” tegasnya.
Dalam simulasi tersebut, peserta dihadapkan pada skenario gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5. Pusat gempa diskenariokan berada 89 kilometer arah tenggara lepas pantai Pacitan. Guncangannya kemudian dirasakan hingga wilayah Magetan dengan intensitas IV MMI.
Peserta sekolah lapang mengikuti simulasi secara langsung. Mulai merespons guncangan, melakukan perlindungan diri, hingga bergerak menuju titik evakuasi yang telah ditentukan.
BMKG berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di kegiatan sekolah lapang. Peserta diharapkan menjadi penghubung informasi kebencanaan dengan masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Kebencanaan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab bersama, baik masyarakat, keluarga, maupun semua yang terlibat,” jelas Teguh.
Sekolah Lapang Gempa Bumi merupakan bagian dari program edukasi BMKG untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana. Program tersebut berjalan berdampingan dengan Sekolah Lapang Iklim dan Sekolah Lapang Nelayan.
Sementara itu, terkait ancaman bencana lain, termasuk aktivitas gunung api, Teguh memastikan koordinasi lintas lembaga terus dilakukan. BMKG berkolaborasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), mengingat data dan peralatan kebencanaan berada pada kewenangan lembaga yang berbeda.
“Data juga tidak hanya ada di BMKG, peralatan juga tidak hanya di BMKG. Begitu juga PVMBG yang mempunyai tugas pokok dan fungsi terkait gunung api. Kami selalu berkoordinasi dan berkolaborasi,” tandasnya. (Gal/PK)



