KKNT UNESA Ubah Limbah Milangasri Magetan Jadi Pupuk, Lilin, hingga Media Jamur

1

POJOKKATA.COM, MAGETAN – Limbah rumah tangga dan sisa pertanian di Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, mulai dilirik dari sudut pandang berbeda. Bukan lagi sekadar barang buangan, melainkan bahan baku yang masih bisa diolah menjadi sesuatu bernilai.

Gagasan tersebut dibawa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui tiga program. Yakni Komposter Galon, JELITA (Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi), serta budidaya jamur janggel berbasis bongkol jagung.

Ketiganya menyasar kelompok warga berbeda. Mulai ibu rumah tangga hingga petani. Namun, pendekatan yang digunakan serupa: memberikan edukasi, kemudian mengajak warga mempraktikkannya secara langsung.

Program Komposter Galon menjadi salah satu upaya mengurangi persoalan sampah organik rumah tangga. Sosialisasi digelar 31 Agustus 2026 dalam perkumpulan Kelompok Tani Sawah Agung.

Lima warga kemudian dipilih sebagai percontohan untuk mengikuti pelatihan pembuatan komposter. Mereka juga mendapatkan satu unit komposter untuk digunakan secara mandiri, lengkap dengan pendampingan mengenai cara penggunaan dan perawatannya.

Ketua Kelompok Tani Sawah Agung Yatno menyebut penggunaan komposter cukup relevan dengan kebutuhan petani. Selama ini, sebagian petani masih bergantung pada pupuk kimia. Keberadaan pupuk organik dari komposter diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, termasuk pH.

Sementara itu, program JELITA menyasar ibu rumah tangga. Kegiatan yang berlangsung 15 September tersebut mengajak warga melihat kembali minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang setelah digunakan untuk memasak.

Tak hanya diberi pemahaman mengenai potensi dampak pembuangan jelantah sembarangan terhadap lingkungan, peserta juga diajak praktik mengolahnya menjadi lilin aromaterapi. Mahasiswa turut memberikan wawasan mengenai pengemasan agar produk tersebut memiliki potensi nilai jual.

Ratna Sari, salah seorang ibu RW yang mengikuti kegiatan, menilai pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi warga. Terlebih, minyak sisa memasak yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata masih bisa diolah menjadi produk lain.

Program ketiga menyasar persoalan limbah pertanian. Mahasiswa memperkenalkan budidaya jamur janggel dengan memanfaatkan bongkol jagung yang selama ini banyak dibiarkan menumpuk setelah musim panen.

Sosialisasi digelar 19 September 2026. Warga dikenalkan dengan potensi bongkol jagung sebagai media budidaya jamur. Program tersebut masih berada pada tahap sosialisasi dan belum sampai pada proses panen.

Bagi warga, gagasan tersebut menjadi alternatif pemanfaatan limbah pertanian. Bongkol jagung yang sebelumnya hanya menumpuk kini memiliki peluang untuk diolah menjadi media budidaya yang bernilai ekonomi.

Tiga program tersebut berangkat dari persoalan sederhana di tingkat rumah tangga dan pertanian. Solusi yang ditawarkan pun relatif mudah karena memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar warga, seperti galon bekas, minyak jelantah, sampah organik, dan bongkol jagung.

Dari sisi lingkungan, pengolahan tersebut berpotensi mengurangi limbah yang berakhir di saluran air, tempat sampah, maupun lahan terbuka. Sedangkan dari sisi ekonomi, lilin aromaterapi dan jamur janggel memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Kompos juga dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Masa KKNT mahasiswa UNESA di Desa Milangasri berakhir 25 September 2026. Setelah itu, keberlanjutan program berada di tangan masyarakat.

Tidak ada teknologi mahal yang ditinggalkan. Yang dibawa pulang mahasiswa justru sebuah kebiasaan baru: melihat barang yang selama ini dianggap sampah sebagai sesuatu yang masih memiliki manfaat.

Jelantah bisa menjadi lilin. Sampah dapur bisa menjadi pupuk. Bongkol jagung bisa menjadi media tumbuh jamur.

Perubahannya mungkin belum besar jika dilihat dari angka. Namun, bagi warga yang terlibat, tiga program tersebut menunjukkan bahwa persoalan limbah tidak selalu membutuhkan solusi rumit. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk mengolah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna. (Gal/PK)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini