Aksi September Hitam di Kampus 5 UNESA Magetan

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN — Senja di pelataran Kampus 5 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Magetan, Selasa (29/9/2026), diisi aksi damai dan diskusi reflektif memperingati September Hitam. Sekitar pukul 16.30 WIB, ruang publik kampus berubah menjadi mimbar bebas mahasiswa.

Kegiatan yang digelar After Class Society tersebut mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM), penegakan hukum, demokrasi, hingga pentingnya merawat ingatan sejarah.

Inisiator sekaligus pemantik dari aliansi mahasiswa Bimbingan dan Konseling (BK), Almachzumi, mengawali kegiatan dengan mengajak peserta mengingat kembali sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran HAM yang hingga kini masih menjadi sorotan.

Di antaranya pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, Tragedi Semanggi I dan II, hingga kasus yang menimpa Affan Kurniawan.

Menurut Almachzumi, persoalan tersebut tidak cukup hanya dikenang. Penegakan hukum terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM dinilai menjadi bagian penting agar kekerasan serupa tidak kembali terjadi.

Pandangan serupa disampaikan Ino, salah seorang partisipan. Dia menilai gerakan mahasiswa tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan politik praktis.

“Tuntutan mahasiswa sangat mendasar, yaitu pemenuhan keadilan hukum bagi korban dan keluarga korban HAM yang telah puluhan tahun menanti kepastian janji negara,” ujarnya.

Suasana aksi juga dilakukan melalui teatrikal dan monolog yang dibawakan Ridwan. Dia tampil di atas banner bertuliskan “We don’t need stupid democracy”.
Bunga ditaburkan di atas banner tersebut sebagai simbol kritik terhadap kondisi demokrasi. Melalui alegori konflik “koala dan rusa”, Ridwan menyampaikan kritik terhadap relasi kuasa dan ketimpangan politik.

Aksi teatrikal juga diwarnai gestur simbolik terhadap atribut kampanye paslon 02. Gestur tersebut digunakan sebagai bentuk kritik terhadap normalisasi figur yang oleh peserta aksi dikaitkan dengan persoalan pelanggaran HAM.

Kritik berikutnya diarahkan kepada aparatur negara dan kebijakan pemerintah. Exsyel, salah seorang partisipan, menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.

Tak hanya mengkritik pemerintah, mahasiswa juga melakukan otokritik terhadap gerakan mereka sendiri.

Achmad menyoroti menurunnya daya kritis mahasiswa di tengah kenyamanan semu dan derasnya arus algoritma media sosial. Menurut dia, mahasiswa perlu terus mengasah kemampuan berpikir kritis dan menjaga gerakan dari lingkup paling kecil.

“Mahasiswa tidak boleh menjadi seperti kawanan rusa yang pasrah ketika ruang hidupnya dirampas,” kata Achmad dalam refleksinya.

Pesan perlawanan kemudian dilanjutkan melalui pembacaan puisi karya Chairil Anwar oleh Tevan.
Namun, kegiatan tidak berhenti pada orasi dan pertunjukan simbolik. Setelah mimbar bebas dan pembacaan puisi, peserta membentuk lingkar diskusi untuk membahas langkah advokasi konkret.

Salah satu hasil yang dibahas adalah penyusunan draf advokasi yang rencananya akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan. Isinya antara lain mendorong keterbukaan ruang publik serta jaminan dan akses pendidikan lokal.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Okan selaku inisiator aliansi. Peserta kemudian memanjatkan doa bagi para korban tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan September.

Usai doa, peserta diajak melanjutkan konsolidasi dan forum diskusi susulan untuk mematangkan refleksi serta menyusun langkah advokasi berikutnya.

“Jika penguasa ingin mengubur sejarah dengan kebohongan, maka ingatan kita adalah bentuk perlawanan. Karena tidak ada keadilan yang akan tegak jika kita memilih untuk diam dan menutup mata,” kata Allesheva, pemimpin inisiator kegiatan.

Melalui aksi tersebut, mahasiswa Kampus 5 UNESA Magetan menyampaikan pesan bahwa peringatan September Hitam tidak sekadar menjadi agenda mengenang tragedi masa lalu. Mereka berupaya menjadikannya ruang refleksi sekaligus pintu masuk untuk mendorong advokasi terhadap persoalan publik di tingkat lokal. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini