POJOKKATA.COM, MAGETAN – Kabupaten Magetan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Kamis (23/4), gerakan percepatan tanam padi serentak digelar di lahan pertanian Desa Rejomulyo, Kecamatan Barat, sebagai bagian dari program tanam serempak seluruh kabupaten/kota se-Jatim.
Kegiatan tersebut terhubung secara daring melalui zoom bersama daerah lain di Jawa Timur.
Hadir dalam kesempatan itu perwakilan Balai Penerapan Modernisasi/BRMP Jawa Timur Arif, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Magetan Ir. Uswatun Khasanah, M.MA, Camat Barat Ari Budi Astuti, Danramil 0804/08 Kapten Inf Sunaryo, Wakapolsek Barat Iptu Widodo, Kepala Desa Rejomulyo Aris Purwanto, Ketua Kelompok Tani Sri Mulyo Yudi Pramono, serta masyarakat setempat.
Kepala Dinas TPHPKP Magetan Uswatun Khasanah menegaskan, percepatan tanam musim tanam (MT) II 2026 menjadi fokus utama demi menjaga kontribusi Magetan terhadap ketahanan pangan nasional.
“Magetan sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur harus konsisten menyumbang produksi padi dan jagung. Target kita tahun ini luas tanam padi MT II harus tercapai guna menjaga ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Menurut dia, gerakan ini juga menjadi langkah strategis untuk mengejar target luas tambah tanam agar tidak ada lahan yang dibiarkan bera atau tidak dimanfaatkan. Khusus lahan beririgasi teknis, pemerintah daerah mendorong pola tanam hingga tiga kali dalam setahun atau IP 300.
Sementara itu, Arif dari BRMP Jawa Timur menyampaikan pesan Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar Magetan tetap menjadi salah satu tulang punggung produksi pangan provinsi.
“Magetan adalah salah satu penopang utama produksi padi Jawa Timur. Karena itu, percepatan tanam harus terus dijaga agar mampu menopang kebutuhan pangan nasional,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pola tanam serempak sesuai kesepakatan kelompok tani dan pembagian golongan air. Langkah ini dinilai efektif untuk memutus siklus serangan hama seperti wereng, tikus, dan penggerek batang.
“Kalau tanamnya terpencar, hama akan terus berpindah. Akibatnya biaya produksi petani bisa membengkak,” jelasnya.
Selain itu, petani juga didorong menggunakan benih unggul bersertifikat seperti Inpari 32, Inpari 42, Ciherang, maupun varietas spesifik lokasi yang tahan hama. Dengan penggunaan benih unggul, produktivitas ditargetkan bisa mencapai minimal 7 ton per hektare gabah kering panen (GKP).
Dalam kegiatan tersebut, BRMP Jawa Timur juga menyerahkan bantuan benih secara simbolis kepada kelompok tani. Penyaluran pupuk bersubsidi dan pemupukan berimbang juga menjadi perhatian.
Pemerintah meminta dinas terkait, distributor, kios, hingga kelompok tani ikut mengawasi agar pupuk benar-benar sampai kepada petani penggarap.
Gerakan tanam padi serentak ini diharapkan mampu mempercepat realisasi target MT II 2026 sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional yang tengah digenjot pemerintah. (Gal/PK)



