Diguyur Hujan, Jamaah Tetap Khusyuk Ikuti Tausiyah Ning Umi Laila di Tulung Magetan

0

POJOKKATA.COM, Magetan – Cuaca tak bersahabat tak menyurutkan semangat spiritual warga Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan dan sekitarnya. Meski sempat diguyur hujan deras, ratusan jamaah tetap bertahan mengikuti Pengajian Akbar dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Minggu malam (3/5/2026).

Kegiatan yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Tulung di Lapangan Desa Tulung itu menghadirkan pendakwah muda yang tengah naik daun, Ning Umi Laila. Suasana kian semarak dengan penampilan Hadrah El Jammatain asal Surabaya.

Hujan yang turun sesaat sebelum acara dimulai sempat membuat panitia waspada. Namun, kondisi itu tak membuat jamaah beranjak. Mereka tetap bertahan, larut dalam suasana pengajian yang hangat, santai, namun tetap khidmat.

Kepala Desa Tulung, Edi Suwondo, mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pengajian ini menjadi momentum penting menyambut Idul Adha sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di masyarakat.

“Kami berharap tausiyah dari Ning Umi Laila bisa membawa manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua. Terima kasih kepada Karang Taruna, panitia, dan seluruh pihak yang mendukung,” ujarnya.

Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, yang turut hadir, memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan sejumlah pesan kepada masyarakat. Di antaranya terkait pentingnya menjaga kebersihan tempat ibadah, khususnya toilet masjid dan musala.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya validitas data kemiskinan. Menjelang pencairan dana RT, ia meminta agar dana tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki akurasi data agar bantuan pemerintah tepat sasaran.

Tak kalah penting, Suyatni juga mengingatkan takmir masjid agar lebih ramah terhadap anak. Menurutnya, anak-anak perlu dibimbing agar mencintai masjid sejak dini, bukan justru dijauhkan.

Memasuki inti acara, Ning Umi Laila menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya ketenangan hati atau “ayem”. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari rasa syukur.

“Orang yang bahagia itu bukan yang paling banyak uangnya, tapi yang paling banyak bersyukur. Kuncinya ada pada lisan yang terus mengucap Alhamdulillah,” tuturnya.

Ia juga memberikan semangat kepada jamaah yang tetap hadir meski harus berhujan-hujanan. Menurutnya, semakin besar perjuangan dalam beribadah, semakin besar pula pahala yang diperoleh.

“Kalau perjuangannya berat, pahalanya juga besar,” tegasnya, yang langsung diamini para jamaah.

Menutup tausiyahnya, Ning Umi Laila mengajak dua anak jamaah, Cintia dan Alfaro, untuk berinteraksi di atas panggung. Keduanya pun mendapat apresiasi berupa hadiah, yang disambut antusias oleh jamaah yang hadir. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini