Cakrawala Maospati, Kawal Kesehatan Mata Pelajar hingga Tuntas

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN – Persoalan gangguan penglihatan pada pelajar di Kecamatan Maospati tak lagi berhenti pada tahap skrining. Melalui program Cakrawala Maospati (Cek Awal Kesehatan Mata melalui Rujukan dan Layanan Lanjutan hingga Tuntas), ratusan siswa kini dikawal hingga benar-benar mendapatkan penanganan medis.

Program yang digelar sepanjang 1–24 April 2026 itu menjadi jawaban atas temuan sebelumnya. Dari hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025, tercatat 324 pelajar mengalami gangguan penglihatan.

Namun hingga awal 2026, masih ada 126 siswa yang belum tertangani. siswa ini mulai dari Sekolah jenjang SD, SMP hingga SMA sederajat yang ada di wilayah Kecamatan Maospati.

Camat Maospati, Verawati Setyaningrum, menegaskan pihaknya tak ingin temuan itu berhenti sebagai data semata.

“Selama ini skrining sering berhenti di identifikasi. Kami dorong agar anak-anak ini benar-benar sampai mendapat penanganan,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Sebagai camat sekaligus ketua UKS kecamatan, Verawati mengambil peran koordinatif. Ia mengorkestrasi kolaborasi lintas sektor mulai dari puskesmas, sekolah, hingga orang tua dan kerjasama dengan Yayasan Para Mitra Indonesia (Paramitra).

Alur program disusun sistematis.
Data siswa diperoleh dari puskesmas, kemudian kecamatan menyusun jadwal pemeriksaan dan berkoordinasi dengan guru UKS. Orang tua melakukan pendaftaran melalui tautan yang disediakan. Selanjutnya, siswa diantar dan dikawal hingga mendapatkan layanan lanjutan.

Pendekatan ini menjadi pembeda utama. Cakrawala Maospati mengusung konsep end-to-end, tidak berhenti pada skrining, tetapi memastikan rujukan, pemeriksaan spesialis, hingga tindak lanjut berjalan.

Program juga menggandeng berbagai pihak, termasuk yayasan sosial dan tenaga medis spesialis mata. Untuk pelaksanaan, dibagi menjadi dua batch. Batch pertama sebanyak 103 siswa menggunakan skema BPJS, sedangkan batch kedua 23 siswa non-BPJS.

Untuk siswa BPJS, rujukan dilakukan ke RS dr. Sayidiman dengan kuota pemeriksaan yang telah diatur. Kecamatan bahkan memfasilitasi keberangkatan siswa, baik secara rombongan maupun mandiri. Siswa yang membutuhkan kacamata juga diarahkan ke optik dengan dukungan tambahan biaya melalui mitra yayasan.

Hasilnya mulai terlihat. Sebanyak 57 siswa telah menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit. Dari jumlah itu, 32 siswa mendapatkan resep kacamata.

Sementara 25 lainnya terdiagnosis mengalami berbagai gangguan, seperti glaukoma, hipertensi okuli, konjungtivitis, spasme akomodasi, hingga astenopia atau mata cepat lelah.

Secara konseptual, program ini dibangun di atas beberapa keunggulan. Selain sistem rujukan aktif dan terpantau, pendekatan yang digunakan berbasis kebutuhan riil siswa. Seluruh proses juga didukung data dan monitoring berkelanjutan.

Lebih jauh, program ini tidak hanya menyasar aspek kuratif. Ada upaya mendorong perubahan perilaku jangka panjang, terutama dalam menjaga kesehatan mata di tengah tingginya paparan gawai.

“Penglihatan yang baik sangat berpengaruh pada kemampuan belajar anak. Kalau tidak ditangani, dampaknya bisa ke prestasi,” tambah Verawati.

Ke depan, Cakrawala Maospati diarahkan menjadi sistem berkelanjutan. Indikatornya meliputi tersedianya basis data kesehatan mata siswa, berjalananya mekanisme monitoring, serta terbentuknya pola kolaborasi tetap antara sekolah, puskesmas, dan layanan spesialis.

Dengan model ini, pemerintah kecamatan berharap tidak ada lagi kasus gangguan penglihatan pelajar yang terabaikan. Lebih dari sekadar program kesehatan, Cakrawala Maospati menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini