POJOKKATA.COM, MAGETAN – Ribuan warga memadati Alun-alun Magetan, Kamis (25/6/2026) malam. Mereka rela berdesakan demi mendapatkan sepotong Bolu Rahayu yang dibagikan dalam tradisi Andum Bolu Rahayu, rangkaian peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah atau Bulan Suro.
Tradisi turun-temurun yang telah diwariskan leluhur Magetan itu kembali digelar dalam agenda Jaya Jayaning Nuswantara VI. Selain menjadi ungkapan rasa syukur, kegiatan tersebut juga menjadi upaya Pemerintah Kabupaten Magetan melestarikan adat dan budaya di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi.
Sebelum dibagikan kepada masyarakat, Bolu Rahayu yang berbentuk lesung dan beduk terlebih dahulu didoakan oleh tokoh agama dan tokoh adat.
Selanjutnya, bolu bersama pusaka-pusaka Kabupaten Magetan dikirab mengelilingi rute di pusat kota sebelum akhirnya dibagikan kepada warga yang sudah menunggu sejak sore.
Suasana pun berubah riuh saat panitia mulai melemparkan Bolu Rahayu ke arah kerumunan. Warga saling berebut dengan harapan memperoleh berkah untuk kehidupan di tahun mendatang.
Salah seorang warga, Pungky, mengaku sengaja datang untuk mengikuti tradisi tersebut. Meski harus berdesakan dengan ribuan orang, ia tetap antusias demi mendapatkan sepotong Bolu Rahayu.
“Ikut rebutan Bolu Rahayu. Dapatnya sulit, pokoknya sulit karena ramai,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar berebut makanan, melainkan ikhtiar mencari keberkahan di Bulan Suro.
“Biar berkah, mencari keberkahan,” imbuhnya.
Sebelum Andum Bolu Rahayu, rangkaian acara diawali dengan Gumolong Lampah Hastungkara dan kirab pusaka. Prosesi dimulai dari Pendapa Surya Graha setelah Bupati Magetan Nanik Sumantri menyerahkan pusaka kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan Suwito sebagai pemimpin kirab.
Lampah Hastungkara merupakan perjalanan batin yang dilakukan dalam keheningan tanpa alas kaki sebagai simbol penghormatan terhadap nilai-nilai luhur budaya.
Bupati Nanik Endang Rusminiarti mengatakan kirab dan jamasan pusaka Magetan Pandhawa atau Kyai Pandhawa Nagaragung mengandung makna penyucian lahir dan batin bagi seluruh masyarakat Magetan.
“Harapannya, dengan kesucian lahir batin dalam menjalankan tugas dan kehidupan pada tahun ini, kita semua senantiasa menemukan keselamatan, kemuliaan, serta dijauhkan dari segala marabahaya,” katanya.
Rangkaian Jaya Jayaning Nuswantara VI telah dimulai sejak Senin (22/6) melalui prosesi pengambilan air dari sejumlah sumber mata air di Kecamatan Panekan. Puncaknya digelar Kamis (25/6) dengan Lampah Hastungkara, kirab pusaka, doa bersama, hingga Andum Bolu Rahayu di Alun-alun Magetan.
Bersamaan dengan perayaan tersebut, Pemkab Magetan juga membuka Pameran dan Bursa Tosan Aji serta Batu Mulia di Gedung Korpri yang berlangsung hingga 27 Juni 2026.
Ketua panitia pameran, Hari Cahyono, menyebut sekitar 200 koleksi tosan aji dari tujuh kolektor Magetan dipamerkan. Menurutnya, kegiatan itu lebih mengedepankan edukasi daripada transaksi jual beli.
“Target kami bukan pada transaksi, tetapi mengenalkan Tosan Aji kepada generasi muda. Minat terhadap warisan leluhur sekarang mulai kalah dengan gadget,” pungkasnya. (Gal/PK)



