Evaluasi Bursa Mata Magetan: 635 Anak Belum Diperiksa, Ekonomi Jadi Salah Satu Kendala

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN – Pemerintah Kabupaten Magetan mengevaluasi pelaksanaan Bulan Periksa Mata (Bursa Mata) 2026. Hasil evaluasi menunjukkan masih ada 635 anak yang terdata mengalami gangguan penglihatan, namun belum menjalani pemeriksaan lanjutan.

Evaluasi program yang mengusung tema “Kurangi Kemiskinan, Jaga Penglihatan” itu digelar di Ruang Jamuan Pendopo Surya Graha Magetan, Kamis (27/8/2026).

Pemkab menargetkan seluruh anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat diperiksa dan ditangani hingga akhir tahun.

Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro mengatakan, Bursa Mata tidak boleh berhenti sebatas pendataan anak yang mengalami gangguan penglihatan. Pemeriksaan lanjutan dan penanganan harus dipastikan sampai tuntas.

“Jangan sampai kita hanya datang, mencatat, tanpa mengetahui makna dari permasalahan mata ini,” tegas Suyatni.

Dia meminta Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dikpora), Dinas Kesehatan, Kementerian Agama (Kemenag), camat, serta seluruh sektor terkait aktif memonitor anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan mata.

“Saya berpesan untuk Dikpora, Dinas Kesehatan, Kemenag, para camat serta leading sector benar-benar memonitor anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan mata. Sehingga 635 anak yang belum melakukan pemeriksaan mata dapat tertangani dengan baik. Hingga dapat mencapai target 100 persen di tahun ini,” ujarnya.

Kepala Bidang Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan Magetan dr. Renny Kurniawaty menjelaskan, berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025, ditemukan 3.099 anak mengalami gangguan kesehatan mata.

Dari jumlah tersebut, 1.397 anak telah menjalani pemeriksaan sebelum program Bursa Mata. Kemudian, pada pelaksanaan Bursa Mata periode 22 Juni–10 Juli 2026, sebanyak sekitar 1.067 anak kembali diperiksa.

Dengan demikian, masih terdapat 635 anak yang belum menjalani pemeriksaan mata.

“Dengan demikian, masih terdapat 635 anak yang belum melaksanakan pemeriksaan mata,” kata Renny.
Gangguan yang ditemukan cukup beragam. Namun, gangguan refraksi menjadi kasus yang paling dominan dengan 971 anak. Gangguan tersebut meliputi rabun jauh atau mata minus, silinder (astigmatisme), dan kelainan refraksi lainnya.

Renny menyebut terdapat pula temuan yang perlu mendapat perhatian lebih serius. Salah satunya anak dengan tekanan bola mata tinggi yang berpotensi berkembang menjadi glaukoma hingga menyebabkan kebutaan apabila tidak segera ditindaklanjuti.

Selain itu, terdapat 17 anak dengan kondisi low vision atau gangguan tajam penglihatan cukup berat. Dalam kondisi tersebut, kemampuan melihat anak jauh di bawah kondisi normal.

“Memang yang perlu kita waspadai, ternyata anak-anak kita sudah ada yang tekanan bola matanya tinggi. Kalau tidak segera ditindaklanjuti, bisa mengarah ke glaukoma, kebutaan, dan sebagainya,” jelasnya.

Menurut Renny, persoalan ekonomi menjadi salah satu kendala anak untuk melanjutkan pemeriksaan maupun mendapatkan alat bantu penglihatan. Sebab, sebagian keluarga masih kesulitan mengakses layanan kesehatan lanjutan hingga membeli kacamata.

Untuk membantu penanganan, sebanyak 62 anak yang dirujuk ke RSUD dr. Sayyidiman Magetan telah mendapatkan akses layanan menggunakan BPJS. Sementara itu, sekitar 610 anak telah mendapatkan kacamata melalui bantuan Yayasan Paramitra Magetan.

“Kalau dari yang hadir, yang sudah terkoreksi sekitar tujuh ratusan,” katanya.

Di sisi lain, program pemeriksaan juga dilakukan melalui berbagai inovasi di tingkat kecamatan. Kecamatan Barat, misalnya, menjalankan program “Barat Cling”. Dari pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan 300 anak sekolah mengalami gangguan mata.

Sebanyak 243 anak telah mendapatkan penanganan melalui Puskesmas Rejomulyo. Sedangkan 57 anak lainnya belum tertangani dan direncanakan menjalani CKG ulang pada 2026.

Renny menambahkan, cakupan pemeriksaan mata akan terus dikejar seiring pelaksanaan CKG anak sekolah. Dari sekitar 98 ribu siswa di Magetan, pemeriksaan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan puskesmas.

“Untuk screening kami sudah memprioritaskan CKG anak sekolah. Sasarannya memang 100 persen,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, petugas puskesmas telah membawa data siswa sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh di sekolah. Prosesnya membutuhkan waktu karena satu sekolah bisa memerlukan tiga hingga empat hari pemeriksaan, terutama untuk mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA.

Pemkab Magetan berharap seluruh proses screening dan tindak lanjut anak dengan gangguan penglihatan dapat terus berjalan hingga akhir 2026. Dengan begitu, program Bursa Mata tidak sekadar menemukan kasus, tetapi benar-benar memastikan anak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini