POJOKKATA.COM, MAGETAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di Kabupaten Magetan mulai mendapat sorotan dari kalangan politik. DPC PDI Perjuangan Magetan meminta aparat kepolisian tidak berhenti pada penanganan api, tetapi turut menelusuri penyebab setiap kejadian yang terindikasi dipicu aktivitas manusia.
Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan Diana Sasa mengatakan, penelusuran penting dilakukan menyusul keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan yang menyebut aktivitas manusia menjadi salah satu pemicu kebakaran. Mulai pembakaran sampah yang merembet, puntung rokok, hingga dugaan pembakaran secara sengaja.
“Kalau sudah ada dugaan kesengajaan yang disampaikan BPBD, menurut saya aparat keamanan perlu masuk dan menelusuri. Bukan untuk buru-buru mencari tersangka, tetapi untuk memastikan sebenarnya apa penyebab kebakaran yang terus berulang ini,” kata Diana, Sabtu (3/10).
Menurut dia, kerja petugas dan relawan dalam memadamkan api patut diapresiasi. Namun, penanganan karhutla dinilai tidak semestinya berhenti setelah api berhasil dipadamkan.
“Jangan sampai polanya terus berulang: ada api, petugas datang, api padam, lalu selesai. Kita harus mulai masuk satu tahap lebih jauh. Dari mana api berasal? Apa penyebabnya? Kalau ada unsur kesengajaan atau kelalaian, siapa yang bertanggung jawab? Itu yang perlu ditelusuri aparat,” ujarnya.
Data BPBD menunjukkan persoalan karhutla di Magetan bukan kejadian sporadis. Berdasarkan publikasi resmi Pemkab Magetan pada 5 Agustus 2026, terdapat 45 kejadian kebakaran lahan sepanjang Mei hingga Juli 2026.
Kala itu, Kepala Pelaksana BPBD Magetan Eka Radityo menyebut sebagian besar kebakaran dipicu aktivitas manusia. Di antaranya kebiasaan membakar sampah yang kemudian merambat ke lahan, membuang puntung rokok sembarangan, hingga dugaan unsur kesengajaan.
Kejadian kebakaran juga masih berlanjut pada bulan-bulan berikutnya, termasuk di kawasan Gunung Bancak dan lereng Gunung Lawu.
Diana menilai banyaknya kejadian tersebut menjadi alasan bagi aparat untuk melakukan penelusuran secara lebih sistematis. Terlebih, kepolisian sebelumnya telah mengingatkan bahwa kesengajaan maupun kelalaian yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan dapat memiliki konsekuensi hukum.
“Kalau indikasi pidananya ada, tentu kepolisian yang mempunyai kewenangan untuk menyelidiki dan membuktikan. Kami mendorong Polres Magetan menelusuri kejadian-kejadian yang memang memiliki indikasi tersebut dan menyampaikan perkembangannya kepada masyarakat sejauh dimungkinkan oleh proses hukum,” katanya.
Meski demikian, Diana menegaskan dorongan tersebut bukan berarti menyimpulkan seluruh kebakaran di Magetan terjadi karena kesengajaan.
“Tidak. Jangan dibalik. Kita tidak mengatakan semua kebakaran sengaja dibakar dan kita juga tidak menunjuk siapa pun. Justru karena belum tahu, maka harus diperiksa. Bisa faktor alam, bisa kelalaian, bisa aktivitas manusia lainnya. Semua harus berdasarkan bukti,” tegasnya.
Dia juga meminta BPBD, Perhutani, Cabang Dinas Kehutanan, Damkar, serta pemerintah desa menyiapkan data dan hasil asesmen lapangan yang dapat mendukung penelusuran aparat.
Menurut Diana, koordinasi lintas sektor sebenarnya sudah terbangun dalam penanganan karhutla di Magetan. Karena itu, data dari masing-masing instansi dinilai penting untuk membantu kepolisian memetakan pola dan penyebab kebakaran.
Tak hanya penelusuran, Diana juga mendorong pemerintah dan aparat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla kepada publik secara berkala. Salah satunya melalui konferensi pers bersama maupun kanal media sosial resmi instansi terkait.
“Tak perlu membuka materi penyelidikan yang memang belum boleh dibuka. Tetapi masyarakat perlu tahu: kejadian mana yang penyebabnya sudah diketahui, mana yang belum diketahui, dan mana yang sedang ditelusuri aparat,” tuturnya.
Menurutnya, pengungkapan penyebab kebakaran menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pencegahan. Sebab, pemadaman hanya menyelesaikan persoalan di permukaan jika sumber masalah tidak pernah diketahui.
“Kalau setiap kali hanya apinya yang kita padamkan tetapi penyebabnya tidak pernah kita cari, tahun depan kita bisa menghadapi persoalan yang sama lagi. Padamkan apinya, tetapi ungkap juga penyebabnya,” pungkas Diana. (Gal/PK)



