Bedah Buku Marhaenisme, Rocky Gerung Sebut Indonesia Lahir dari Semangat Kiri

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN – Pengamat politik Rocky Gerung menyebut karakter dasar atau “genetik” bangsa Indonesia sejak awal berdiri berada pada spektrum kiri. Pernyataan itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam peluncuran sekaligus bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Wisma Perjuangan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan, Minggu (28/6/2026) malam.

Kegiatan yang dikemas dalam forum diskusi Soekarno Talk-In sebagai bagian dari peringatan Bulan Bung Karno 2026 itu juga menghadirkan akademisi sekaligus penulis buku, Airlangga Pribadi Kusman.

Forum terbuka dan gratis tersebut diikuti kalangan muda, khususnya generasi Z di Magetan.

Dalam paparannya, Rocky menjelaskan bahwa semangat yang melahirkan Indonesia merdeka tidak lepas dari gagasan-gagasan sosialisme dan perlawanan terhadap kapitalisme maupun liberalisme.

“Negeri ini dihasilkan dimulai dari perkumpulan kiri. Waktu Indonesia merdeka, energi untuk memerdekakan diri datang dari prinsip-prinsip sosialisme karena yang dilawan adalah liberalisme. Datang dari prinsip-prinsip Marxisme karena yang dilawan adalah kapitalisme. Karena dari awal genetik dari negeri ini adalah kiri,” ujar Rocky.

Menurutnya, istilah “kiri” kini seolah hilang dari ruang percakapan publik. Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari proses desukarnoisasi yang berlangsung pada masa Orde Baru.

“Yang kita persoalkan kenapa kiri itu sekarang hilang di dalam percakapan. Karena pada Orde Baru terjadi desukarnoisasi. Jadi Orde Baru yang membuat itu, bukan Gen Z yang mengalami desukarnoisasi,” katanya.

Rocky juga menjelaskan, buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z lahir karena munculnya fenomena yang ia sebut sebagai proses reideologisasi, termasuk menguatnya kembali pembicaraan mengenai pemikiran Soekarno.

“Justru karena ada gejala resukarnoisasi, maka kami menulis buku ini untuk melayani gairah orang berbicara tentang Soekarno. Buku ini bukan untuk menjawab desukarnoisasi, tetapi mengarahkan resukarnoisasi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan Diana A.V. Sasa mengatakan forum tersebut sengaja digelar untuk membangun tradisi diskusi di Magetan yang menurutnya belum berkembang seperti di kota-kota besar.

“Budaya diskusi sangat diperlukan sebuah kota. Masyarakat harus dilatih berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat agar ada penyeimbang terhadap pemerintah. Perbedaan pandangan jangan dianggap sebagai permusuhan, tetapi menjadi ruang berdialektika untuk melahirkan gagasan baru,” ujarnya.

Menurut Diana, kehadiran Rocky Gerung diharapkan menjadi pemantik lahirnya budaya membaca, berdiskusi, dan menerima perbedaan pendapat di tengah masyarakat.

Ia juga menjelaskan alasan dipilihnya tema marhaenisme dalam peluncuran buku tersebut. Menurutnya, selama puluhan tahun terjadi upaya mengikis ingatan publik terhadap pemikiran Soekarno.

“Selama berdekade-dekade ada semacam desukarnoisasi. Banyak generasi muda yang tidak mengetahui Soekarno sebagai pencetus Marhaenisme, bahkan dulu Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni pun tidak banyak diketahui masyarakat,” jelasnya.
Melalui buku tersebut, lanjut Diana, pihaknya ingin mengembalikan ingatan generasi muda terhadap gagasan Marhaenisme sebagai ajaran yang memperjuangkan keadilan sosial.

“Selama ini istilah Marhaenisme sering diberi konotasi negatif sehingga masyarakat takut mempelajarinya. Padahal nilai-nilainya adalah melawan ketidakadilan, memilih kebenaran, dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Itu yang ingin kami wacanakan kembali kepada generasi baru,” pungkasnya.

Forum diskusi tersebut turut dihadiri anggota DPR RI dari PDI Perjuangan Budi Sulistyono (Kanang), anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, serta sejumlah anggota DPRD Magetan dari PDI Perjuangan. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini