Jelang 1 Suro, Bunda Rita Pimpin Ziarah ke 6 Makam Leluhur Ponorogo

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Menjelang pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau 1 Suro, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menggelar prosesi ziarah ke sejumlah makam tokoh pendiri dan pejuang daerah, Minggu (14/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian sakral Grebeg Suro 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita memimpin langsung rombongan ziarah bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Secara maraton, rombongan mengunjungi enam lokasi makam yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi Bumi Reog.

Rangkaian ziarah diawali di makam Bathoro Katong, pendiri sekaligus adipati pertama Ponorogo, yang berada di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan.

Doa bersama dipanjatkan dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang dikenal membuka dan membangun Ponorogo.

Selanjutnya, rombongan bergerak menuju makam KRMA Mertonegoro di Desa Tanjung, Kecamatan Siman. Perjalanan dilanjutkan ke makam KH Muhammad Besari di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, yang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran syiar Islam di wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Penghormatan kepada para tokoh daerah kemudian diteruskan ke makam RMAA Tjokronegoro di Kelurahan Kauman serta makam RM Mertokusumo di Astana Srandil, Kecamatan Jambon.

Rangkaian ziarah ditutup di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ponorogo. Di lokasi tersebut, rombongan melaksanakan upacara penghormatan dan tabur bunga sebagai bentuk penghargaan atas jasa para pejuang kemerdekaan.

Lisdyarita menegaskan, ziarah makam leluhur bukan sekadar agenda seremonial tahunan yang rutin digelar menjelang Grebeg Suro. Menurutnya, kegiatan itu menjadi momentum refleksi untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus meneladani perjuangan mereka.

“Ziarah menjelang 1 Suro 1448 Hijriah ini adalah cara kita untuk merunduk, mengingat kembali jasa besar para tokoh terdahulu yang telah babat alas membangun Ponorogo,” ujarnya.

Menurut perempuan yang akrab disapa Bunda Rita itu, kemajuan Ponorogo saat ini tidak lepas dari perjuangan para leluhur yang telah meletakkan fondasi pemerintahan, budaya, dan spiritualitas masyarakat.

“Tanpa perjuangan spiritual dan kultural dari beliau-beliau ini, kita tidak akan menikmati Ponorogo yang maju seperti sekarang,” imbuhnya.

Dia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, Forkopimda, dan masyarakat dalam menjaga sekaligus meneruskan warisan para pendahulu.

“Esensi dari Grebeg Suro bukan hanya pesta budaya, tetapi juga memperkuat akar sejarah kita. Kami berharap momentum ini membawa keberkahan bagi masyarakat Ponorogo, sekaligus memicu semangat untuk terus berinovasi tanpa melupakan identitas asli daerah,” tandasnya.

Ziarah makam tokoh menjelang 1 Suro menjadi salah satu tradisi yang membedakan Grebeg Suro Ponorogo dengan perayaan budaya lainnya. Selain menghadirkan kemeriahan agenda seni dan budaya, Grebeg Suro juga tetap menjaga nilai religiusitas serta penghormatan terhadap sejarah dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini