Bulan Periksa Mata di Magetan, 9 Kecamatan Jadi Percontohan

0

POJOKKATA.COM, MAGETAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan resmi meluncurkan program Bulan Periksa Mata 2026 melalui kegiatan Diskusi Publik dan Launching Bulan Periksa Mata yang digelar di Ruang Rapat Ki Mageti, Senin (22/6/2026).

Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang apresiasi bagi sembilan kecamatan yang dinilai berhasil menghadirkan inovasi terbaik dalam upaya pencegahan gangguan penglihatan.

Acara yang dihadiri jajaran Forkopimda, kepala OPD, camat, kepala puskesmas, kepala sekolah SD dan SMP se-Kabupaten Magetan itu dibuka oleh Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro mewakili Bupati Magetan. Hadir pula Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia Asiah Sugianti beserta jajaran, Tim I SEE, para orang tua, serta siswa penerima manfaat program kesehatan mata.

Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Para Mitra Indonesia menyerahkan piagam penghargaan kepada sembilan kecamatan yang dinilai memiliki inovasi unggulan dalam bidang kesehatan mata.

Masing-masing kecamatan mengembangkan program dengan pendekatan berbeda untuk mendeteksi dan mencegah gangguan penglihatan sejak dini.

Sembilan kecamatan penerima penghargaan itu meliputi Plaosan dengan program IM3 SHINE, Maospati melalui CAKRAWALA MAOSPATI, Magetan dengan SI MATA CANDI, Kawedanan lewat SIPEKAMATA, Bendo dengan PELITA MATA, Ngariboyo melalui SI BENING, Sidorejo dengan SIDOCERAH, Barat lewat BARAT CLING, serta Karas dengan program CEMARA KARAS.

Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro menyampaikan apresiasi kepada seluruh kecamatan yang berhasil membangun inovasi kesehatan mata di wilayah masing-masing. Menurutnya, kesehatan mata menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Melalui penglihatan yang sehat, masyarakat dapat belajar, bekerja, beraktivitas, dan menikmati kehidupan dengan lebih baik,” ujarnya.

Tak hanya menerima penghargaan, Kecamatan Ngariboyo dan Karas juga menjadi sorotan karena dinilai berhasil mengintegrasikan program kesehatan mata ke dalam perencanaan pembangunan desa.

Di Kecamatan Ngariboyo, Desa Sumberdukun, Balegondo, dan Selopanggung telah mengalokasikan dana APBDes untuk kegiatan sosialisasi kesehatan mata inklusif. Sementara di Kecamatan Karas, Desa Taji dan Temenggungan memanfaatkan dana desa untuk pelaksanaan skrining ketajaman penglihatan secara berkala bagi warga.

Langkah tersebut diharapkan menjadi model kolaborasi antara pemerintah desa, puskesmas, dan kecamatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mata sejak usia dini.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia Asiah Sugianti menegaskan bahwa program kesehatan mata bukan semata menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

“Deteksi dini kesehatan mata pada siswa perlu dibangun melalui sistem di sekolah. Anak dapat dirujuk sesuai prosedur tanpa harus menunggu puskesmas datang setahun sekali. Di masyarakat juga perlu kader yang mampu bergerak secara mandiri. Harapannya program yang sudah terbangun ini terus berjalan dan membantu Dinkes maupun pemerintah daerah,” paparnya.

Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan bantuan kacamata kepada sejumlah siswa serta pemberian penghargaan kepada kecamatan berinovasi terbaik di bidang kesehatan mata.
Salah satu penerima manfaat program, Doni, siswa SLB Idhati Parang, turut berbagi pengalaman.

Ia mengaku mulai mengalami gangguan penglihatan sejak 2020. Setelah menjalani pemeriksaan dan pendampingan dari Para Mitra Indonesia, Doni mendapat penanganan lanjutan di Surabaya dan didiagnosis menderita katarak serta glaukoma.

Peluncuran Bulan Periksa Mata 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat gerakan skrining dan edukasi kesehatan mata secara inklusif hingga menjangkau desa, sekolah, dan kelompok masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini