POJOKKATA.COM, MAGETAN – Napak Tilas dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-381 Kabupaten Magetan berpeluang dikembangkan menjadi agenda yang lebih menarik bagi generasi muda. DPC PDI Perjuangan Magetan mendorong kegiatan tahunan tersebut dikemas lebih kreatif dengan memadukan olahraga, sejarah, dan budaya lokal agar mampu menjangkau peserta hingga tingkat nasional.
Gagasan itu disampaikan Wakil Sekretaris Bidang Internal DPC PDI Perjuangan Magetan, Lucky Setiyoherman, saat pihaknya berpartisipasi dalam kegiatan Napak Tilas, Sabtu (24/10). Dalam kegiatan tersebut, DPC PDIP Magetan membuka water station di depan Dapur Lintang Magetan, salah satu titik rute Ngunut-Parang-Magetan (Ngupatan).
Pos tersebut menyediakan air mineral dan buah segar, seperti semangka, pisang, dan jeruk. Fasilitas itu disiapkan untuk membantu peserta menjaga stamina sekaligus memulihkan energi selama menempuh rute, baik dengan berjalan kaki maupun berlari.
Namun, menurut Lucky, potensi Napak Tilas tidak berhenti pada kegiatan olahraga dan peringatan hari jadi daerah. Agenda tersebut juga bisa menjadi sarana mengenalkan sejarah Magetan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
Dia menilai, Napak Tilas memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan anak muda, termasuk komunitas pelari yang kerap disebut pelari kalcer. Potensi tersebut dapat dimaksimalkan melalui konsep acara yang lebih interaktif dan edukatif.
“Agenda seperti Napak Tilas ini sangat diminati oleh kalangan anak muda yang sering disebut sebagai pelari kalcer. Agar semakin menarik minat generasi muda, mungkin agenda serupa tahun depan dapat dikolaborasikan dengan konten-konten historis yang menambah edukasi tentang sejarah Magetan,” ungkap Lucky.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah menghadirkan informasi sejarah di sejumlah titik sepanjang rute. Materi tersebut bisa dikemas dalam bentuk artikel singkat dengan sentuhan artwork kontemporer agar lebih menarik dan mudah dipahami peserta.
Dengan konsep itu, peserta tidak hanya berlari atau berjalan menyusuri rute Napak Tilas. Mereka juga dapat mengenal kisah sejarah, identitas, serta kekayaan lokal Magetan melalui pengalaman yang lebih interaktif.
Lucky juga mengusulkan agar Napak Tilas dikembangkan menjadi festival yang memadukan aktivitas olahraga dengan pop culture khas Magetan. Kolaborasi lintas komunitas dan pelibatan pelaku kreatif lokal dinilai dapat memperkaya pengalaman peserta sekaligus meningkatkan daya tarik acara.
“Bisa melalui penambahan gimmick berupa artikel-artikel sejarah yang dikemas dengan artwork kontemporer agar menarik bagi generasi hari ini. Apalagi jika acaranya dikemas menjadi sebuah festival dan menampilkan pop culture Magetan,” tambahnya.
Menurut dia, penguatan konsep tersebut dapat menjadi langkah untuk memperluas jangkauan Napak Tilas. Tidak hanya diminati masyarakat Magetan dan sekitarnya, kegiatan itu diharapkan mampu menarik peserta dari berbagai daerah.
“Harapannya, tahun depan Napak Tilas bukan hanya menjadi event yang dinikmati anak muda di sekitar Magetan, tetapi juga bisa diupayakan naik level ke tingkat nasional,” tegasnya.
Partisipasi DPC PDIP Magetan melalui penyediaan water station menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kelancaran kegiatan. Lebih jauh, pengembangan Napak Tilas diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi antara komunitas olahraga, pegiat sejarah, seniman, dan pelaku ekonomi kreatif.
Dengan pengemasan yang lebih inovatif, Napak Tilas berpeluang menjadi agenda yang tidak hanya memeriahkan hari jadi Kabupaten Magetan, tetapi juga memperkuat promosi sejarah dan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas. (Gal/PK)



