Pekan Raya Ponorogo 3–6 November, Last Child Buka Acara, Ndarboy Genk Tutup Konser

0

POJOKKATA.COM, PONOROGO – Kabupaten Ponorogo bakal punya agenda baru di penghujung tahun. Bertajuk Kemilau Pekan Raya Ponorogo (KPRP), event yang memadukan pameran inovasi, bazar UMKM, festival musik, hingga konser hiburan itu dijadwalkan berlangsung pada 3–6 November 2026. Last Child dan Ndarboy Genk dipastikan menjadi magnet utama untuk menarik pengunjung.

Last Child dijadwalkan tampil pada malam pembukaan, sedangkan Ndarboy Genk bakal memeriahkan malam penutupan. Tak sekadar menghadirkan hiburan, KPRP dirancang sebagai ruang unjuk kreativitas sekaligus promosi potensi daerah dan penggerak ekonomi masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, KPRP menjadi langkah untuk menyatukan berbagai potensi dan kreativitas daerah dalam satu agenda. Perangkat daerah, kalangan pelajar, pegiat ekonomi kreatif, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diberi ruang untuk menampilkan inovasi masing-masing.

“Semuanya harus memunculkan ide-ide dan kreasi-kreasi dengan menggali sedalam mungkin potensi daerah,” kata Bunda Lis, sapaan Lisdyarita, saat menghadiri rapat koordinasi teknis KPRP di ruang rapat Bapperida Ponorogo, Selasa (27/10).

Bupati perempuan pertama di Ponorogo itu berharap KPRP tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Event tersebut diharapkan berkembang menjadi agenda tahunan yang mampu mengangkat potensi lokal sekaligus mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).

“Ke depannya itu akan bisa jadi seperti Grebeg Suro sehingga bisa mendongkrak PAD. Ayo masyarakat Ponorogo, bersama-sama kita datang ke acara pameran sambil menonton konser musik,” ajaknya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo Agus Sugiarto menjelaskan, KPRP mengusung empat ekosistem utama. Yakni, pameran inovasi dan teknologi (inotek), pameran ekonomi kreatif dan bazar UMKM, festival band dan konser musik, serta pemberian penghargaan kepada wajib pajak daerah yang taat.

Menurut dia, pekan raya tersebut menjadi ruang interaksi bagi perangkat daerah, pelaku usaha, institusi pendidikan, komunitas, industri, dan masyarakat.

Melalui pameran inotek, perangkat daerah dan institusi pendidikan dapat memamerkan berbagai inovasi yang dikembangkan. Mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, administrasi kependudukan, hingga pelayanan perizinan.

“Layanan-layanan terbaru atau terobosan-terobosan perangkat daerah, mulai dari kesehatan, pendidikan, pelayanan KTP, pelayanan perizinan, bisa juga ditampilkan di pekan raya,” jelas

Agus yang akrab disapa Ugin.
Tak hanya inovasi pelayanan publik, sektor ekonomi kreatif juga menjadi perhatian. Pameran dan bazar UMKM diharapkan menjadi sarana promosi produk lokal sekaligus memperkuat posisi Ponorogo sebagai bagian dari jejaring kota kreatif dunia atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Sejumlah subsektor ekonomi kreatif, mulai kerajinan, kuliner, fesyen, aplikasi digital, seni, hingga desain, diproyeksikan ikut meramaikan kegiatan tersebut.

“Kalau tidak salah, tujuh subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari kerajinan, kuliner, fashion, dan aplikasi digital, seni, dan desain ambil bagian,” ungkapnya.

KPRP juga menjadi momentum menghidupkan kembali kompetisi musik di kalangan pelajar. Ugin menyebut, Ponorogo sudah sekitar 10 tahun vakum dari festival musik. Padahal, musik merupakan salah satu bagian penting dari industri ekonomi kreatif.

“Perlu diingat musik bagian dari ekonomi kreatif,” tegasnya.

Dari sisi pameran, panitia menyiapkan 48 stan finalis inotek dan 40 stan bazar UMKM. Puluhan finalis inotek tersebut akan memamerkan hasil inovasi yang telah melalui proses penilaian oleh tim akademisi independen.

Inovasi yang ditampilkan mencakup produk teknologi, pemanfaatan kearifan lokal, hingga terobosan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan produktivitas.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengatakan, KPRP juga membuka peluang bagi sektor industri, perusahaan, dan pelaku usaha untuk mempromosikan produk maupun layanan mereka kepada masyarakat.

Perpaduan pameran, bazar, festival, dan hiburan diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat daya tarik Ponorogo.

Judha berharap KPRP dapat berkembang menjadi agenda ikonik daerah yang melengkapi berbagai event unggulan yang telah ada.

“InsyaAllah bisa menjadi kalender tahunannya Ponorogo. Menjadi event ikoniknya Ponorogo setelah Grebeg Suro, Ponorogo Rikolo Semono, ataupun PCF,” harapnya.
Pada malam pembukaan, Last Child bakal menghibur pengunjung.

Sementara itu, penampilan Ndarboy Genk akan menjadi salah satu agenda utama pada malam penutupan. Pada kesempatan tersebut, pemerintah daerah juga akan memberikan penghargaan kepada wajib pajak daerah teladan sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat yang membayar pajak secara taat dan tepat waktu.

“Di opening nanti tidak hanya sekadar merangkai atau menjahit beberapa program unggulan, tetapi ada live music dengan bintang tamu Last Child. Kalau di closing-nya, giliran Ndarboy Genk,” pungkas Judha. (Gal/PK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini